Yohanes 9: 1-7 | Perspektif yang Memulihkan

KETERANGAN LINK GAMBAR
Orang yang buta sejak lahirnya
9:1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.
9:2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"
9:3 Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.
9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.
9:5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."
9:6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi
9:7 dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.

Syalom bapak dan ibu sekeluarga.
Hari ini kita melalui satu peristiwa yang sama sekali baru bagi kita semua: beribadah bukan di gedung gereja, melainkan beribadah di rumah kita, keluarga kita masing-masing di hari Minggu ini.


Saya mau cerita sedikit bahwa memutuskan untuk meniadakan ibadah minggu di gedung gereja bukanlah satu hal yang mudah … ada banyak pro dan kontra yang di situ kita semua memahami mengapa ada yang memilih setuju dan ada yang memilih untuk tidak setuju …

Namun pada akhirnya, sesuai dengan arahan Presiden, Pemda dan juga Sinode GKP, kita sepakat untuk memindahkan peribadahan di gedung gereja ke rumah kita masing-masing, demi pemulihan bersama dari pandemi virus Corona.

Menarik untuk kita lihat bersama dalam perikop kita hari ini bahwa perikop kita hari ini pun kita bertemu dengan pengalaman berhadapan dengan sakit-penyakit, penderitaan yang kemudian “diributkan”.

Mari kita baca kembali ayat 2
Ayat Alkitab
"Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"

Apa yang salah dari kalimat pertanyaan itu? Landasan berpikirnya. Landasan berpikirnya jelek, memandang buruk terhadap orang lain, padahal belum tentu seperti yang mereka pikirkan yang terjadi dalam kehidupan orang yang terlahir buta tadi.

Rekomendasi: Daftar Isi Renungan

Ingatlah bagaimana banyak orang di beberapa hari yang lalu juga ada yang terjatuh dalam sikap “saling menghakimi” antara yang pro dan kontra tentang pemberlakuan ibadah Minggu di keluarga masing-masing.

Sedihlah lihatnya di media-media sosial kalau mau diinget yang kemarin mah …

Tetapi bersyukur Puji Tuhan pada akhirnya hari ini jauh-jauh lebih banyak orang yang bisa menempatkan landasan berpikir yang positif terhadap kebijakan yang kita sepakati bersama sebagai bangsa dan sebagai bagian dari jemaat GKP di seluruh Jawa bagian Barat.

Nampaknya kita cukup belajar dari perkataan Yesus yang memberikan landasan positif terhadap pertanyaan para murid yang, dasarnya saja sudah buruk, jelek, negatif “siapa yang berdosa?”

Pilihan jawaban yang tersedia jadinya semuanya buruk: kalau bukan orang yang buta tadi yang berdosa, pasti orang tuanya yang berdosa. Buruk semua kan pilihannya.

Memandang satu peristiwa dari perspektif yang memulihkan.

Mari kita lihat kembali ayat 3, jawaban dari Yesus:
"Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.

Perspektif yang memulihkan.

Kita ini sudah sama-sama sedang mengalami masa yang susah. Kenapa sih kita masih harus semakin menyusahkan diri lagi dengan ketidakmampuan menemukan sesuatu yang baik dari apa yang kita lakukan bersama hari ini, di rumah kita ini, dalam ibadah Minggu di keluarga kita masing-masing …

Boleh bertanya?

Seberapa sering kita punya kesempatan beribadah sama-sama dengan keluarga di hari Minggu? Duduk berdekat-dekatan seperti sekarang?

Sering? Puji Tuhan kalau sering.

Kalau jarang, berarti lebih Puji Tuhan lagi karena inilah waktunya bagi kita untuk bisa beribadah bersama-sama sebagai keluarga yang utuh.

Yang terakhir yang saya mau ajak untuk kita renungkan bersama adalah … tentang cara Tuhan memulihkan.
Ayat 6-7
Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.

Saya sepakat dengan penafsiran yang mengatakan begini:

Jadi ketika Yesus mengaduk tanah dengan ludahNya, Yesus melakukan seperti yang dilakukan Bapa ketika membentuk manusia dari debu tanah. Dan ketika orang buta tersebut membasuh dirinya di kolam Siloam, maka orang buta tersebut mendapat curahan Roh Kudus. Roh kudus inilah yang mengubah adukan tanah yang menempel pada mata orang buta tersebut menjadi bola mata, organ yang hidup sehingga orang tersebut bisa melihat seperti Bapa yang menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung Adam sehingga manusia itu menjadi makhluk yang hidup, Roh kudus yang sama inilah yang menyebabkan Maria mengandung tanpa benih laki-laki.

Selain itu Roh kudus inilah memberikan hikmat kepada orang buta tersebut sehingga bisa memberi kesaksian didepan orang- orang Farisi dan kesaksiannya tidak dapat dibantah (Markus 13:11), yang sebenarnya menggambarkan rencana Allah terhadap orang buta tersebut sebagaimana tertulis dalam Yohanes 9:3. Dan peristiwa memelekkan mata orang yang lahir buta tidak pernah dilakukan nabi manapun selain Yesus Anak Allah yang hidup.

Kerjasama yang apik antara kita dengan Tuhan

Ada kerjasama yang apik terjadi antara Yesus dan orang buta yang mau dipulihkan tadi. Yesus menyediakan jalan pemulihannya, tetapi orang buta tadi juga harus melakukan bagiannya untuk bisa jadi pulih, yaitu dengan berjalan pergi ke kolam Siloam dan membasuh dirinya sehingga matanya sembuh.

Bukankah ini yang sedang kita lakukan sekarang dengan cara berdiam diri di rumah sementara waktu sehingga kita bisa mengalahkan pandemi virus Corona …

Pemulihan selalu disediakan oleh Tuhan, tapi jelas kita harus melakukan juga apa yang memang harus kita lakukan untuk dipulihkan oleh Tuhan.

Tuhan menolong kita. Amin.

Allah senantiasa menjaga dan memelihara kita asalkan kita sendiri tidak menghalangi-Nya melakukan hal itu. (Thomas Aquinas)

Post a Comment