Yesaya 2:1-5 | Berjumpa di Terang Matahari

berjumpa di terang matahari
Sion sebagai pusat kerajaan damai
2:1 Firman yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem.
2:2 Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,
2:3 dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem."
2:4 Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.
2:5 Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!

Berjumpa di Terang Matahari — Syalom bapak dan ibu semuanya. Hari ini akan menjadi hari yang akan selalu dikenang oleh lima saudara/i kita yang akan mengucapkan pengakuan iman percayanya di hadapan Tuhan dan jemaat.

Perjalanan yang tidak mudah untuk terus berusaha mengenal Alkitab dan gereja di sepanjang pertemuan-pertemuan yang telah terjadi selama -/+ 1,5 tahun ini.

Kita harus selalu mengingat bahwa pabila seseorang telah mengikuti katekisasi dan pada akhirnya sidi, itu bukan berarti pembelajaran akan kebenaran Firman Tuhan menjadi selesai.

Justru sebaliknya. Pada titik inilah kita memulai untuk belajar lebih dalam lagi tentang Firman Tuhan bukan hanya di kelas-kelas katekisasi, tetapi di kelas kehidupan yang nyata: dalam keseharian kita.

Saya mau mengawali renungan kita hari ini dengan sebuah cerita. Ini cerita yang monumental (buat saya).

Cerita tentang Goa yang ditulis oleh Plato.

cerita tentang goa plato
Ada orang-orang yang tertawan di dalam sebuah goa. Mereka tidak pernah melihat keluar dari goa, yang mereka lihat hanyalah bayangan-bayangan yang muncul karena cahaya dari api unggun yang ada di dalam goa.

Suatu hari, salah satu dari mereka ada yang berhasil keluar. Dia pun melihat ada api unggun: "ah, dari situ datangnya bayangan". Akan tetapi tidak berhenti pada "melihat api unggun" saja, dia terus berjalan ke ujung pintu goa dan akhirnya dia keluar dari goa. Di luar goa, akhirnya dia menyadari ada matahari sebagai sumber terang.

Dia senang sekali melihat keadaan yang baru saja dilihatnya. Kemudian dia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam goa untuk menceritakan kepada teman-temannya tentang apa yang telah dilihatnya di luar goa itu.

Apa yang terjadi setelah dia menceritakan hal itu kepada teman-temannya? Ditertawakan dan diacuhkan.

Pembacaan Alkitab kita hari ini memang terjadi jauh-jauh hari sebelum Yesus lahir. Pembacaan kita hari ini terjadi pada saat bangsa Israel baru mau dihukum Tuhan ke tanah pembuangan. Dihukum karena mereka degil.

Kita tahu selanjutnya bahwa saat mengalami penghukuman di tanah asing - negeri pembuangan itulah pengharapan akan datangnya Juruselamat (Mesias, Kristus) terjadi.

Singkat cerita, setiap kali mereka terjatuh dalam pergumulan yang besar sebagai sebuah bangsa, disitulah pengharapan kedatangan Mesias muncul.

Hingga akhirnya, pada saat bangsa Israel kembali mengalami pergumulan yang besar sebagai satu bangsa, yaitu penjajahan Romawi, Kristus datang; dan apa yang terjadi? Kristus ditolak.

Makanya perjuangan para rasul Kristus di dalam pembangunan gereja mula-mula adalah tepat seperti apa yang digambarkan oleh cerita Plato tadi: orang yang telah keluar dari kegelapan menuju terangNya yang ajaib (1 Petrus 2:9).

Coba lihat ayat 4
Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.

Pengakuan bahwa Mesias akan datang sebagai hakim, bukankah yang seperti itu juga bukan hanya ada dalam iman kita saja? Yesus yang datang sebagai Hakim.

Apa yang telah dinanti-nantikan dahulu telah datang.

Saya justru melihat disitulah perjuangan kita sebagai orang percaya (pengikut Kristus): Orang-orang dari dalam goa yang gelap dan telah melihat terang yang sejati.

Kita akan ditertawakan.
Kita akan ditolak.
Kita akan menderita.

Semua karena kita telah melihat terang yang sesungguhnya itu.

Boleh tanya? Bapak dan ibu yakin siap menghadapi itu semua? Yang mau mengucapkan pengakuan imannya hari ini, yakin siap? Siap gak?

Kristus yang telah menolong kita untuk menghadapi segalanya akan selalu bersama dengan kita dan menyediakan pertolongan yang nyata untuk menghadapi pasang surutnya jalan kehidupan yang kita tempuh.

Oiya, yang terakhir ... Kalau orang yang keluar dari dalam goa itu adalah gambaran katekisan sebagai orang percaya, bapak dan ibu yang sudah sidi ada di mana? Saya sih berpikirnya "sudah ada di luar goa".

Di situlah fungsinya gereja sebagai persekutuan yang saling menopang dan saling menguatkan satu dengan yang lainnya. "Di dalam goa" kita akan bertemu dengan orang-orang yang "menertawakan", di dalam persekutuan orang percaya, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang meneguhkan.

Orang yang kehilangan uang, kehilangan banyak. Orang yang kehilangan teman, kehilangan lebih banyak. Orang yang kehilangan keyakinan, kehilangan segala-galanya. (Anonim)
Sumber gambar: Pixabay; Goa Plato: geotimes.co.id

Post a Comment