Efesus 4:25-5:2 | Cukup Sampai Di Sini - Pdt. Gerry Atje
marah
Syalom bapak dan ibu semuanya.
Bacaan renungan kita hari ini menarik. Menariknya karena ada begitu banyak sikap-sikap negatif disebutkan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Efesus. Tujuannya sudah jelas agar mereka membuang hal itu semua dan menggantinya dengan sikap yang baik dan positif.

Coba kita hitung ya ada berapa ...
Buang dusta, jangan berkata kotor, jangan marah, jangan mencuri, buang kepahitan, jangan geram, pertikaian, fitnah, dll.

Saya selalu kepikiran begini, apabila rasul-rasul menuliskan sebuah surat kepada jemaat di sebuah kota yang berisi arahan-arahan firman Tuhan kepada mereka (misalkan yang negatif tadi ya) itu alasannya karena memang sikap-sikap negatif itu ada dalam kehidupan jemaat saat itu. Ada yang berdusta, ada yang marah, ada yang bertikai dan lainnya. Dapat dipahami ya jalan pikiran ini.

Jikalau itu benar-benar terjadi, sekarang bayangkan betapa tidak nyamannya hidup bersama-sama sebagai orang percaya di Efesus waktu itu.

Contoh kecil ni ya: Saya di rumah, kalau lihat istri cemberut tu rasanya gak enak banget. Lha ini coba bayangin apa rasanya dicemberutin se-jemaat (misalnya yang paling ekstrim kejadian di Efesus). Enak? Gak enak.

Di renungan warta saya membahas tentang orang-orang yang menjadi objek menderita dari sikap negatif itu. Kemudian saya tanya: kuat berapa lama orang itu sebelum akhirnya "mental" (misalnya: gak datang-datang gereja lagi; Cukup sampai di sini)

Sayangnya yang namanya hidup bersama-sama dengan orang lain yang ada di sekitar kita, berhadapan dengan sikap-sikap negatif tidak bisa terelakkan. Bahkan gak perlu sampai kejadian sikap negatif itu, bahkan hanya dari kesalahpahaman kecil saja kita bisa jadi "rasa gak enak di hati"

Contoh: Gesture (gerak gerik tubuh) mata saat bersalaman, gak lihat orang yang kita salamin, bisa di artikan apa? Oo dia gak menghargai nih. Padahal kan belum tentu seperti itu.


Nah, hari ini saya mau mengajak kita untuk sama-sama belajar seperti jemaat di Efesus belajar menjadi jemaat yang ... kita nyaman berada di dalamnya.

Yang pertama, jika ada rasa gak enak, jangan diam saja. Mari kita komunikasikan dan dicari solusinya.

Kita tahu kan ya proses terjadinya surat-surat dalam Alkitab kita. Terjadi masalah dalam kehidupan satu jemaat, lalu jemaat itu mengutus orang untuk mengkomunikasikan masalah tersebut kepada rasul-rasul (dalam hal ini jemaat Efesus menceritakan kepada rasul Paulus), lalu rasul Paulus jadi tahu ada masalah, hingga akhirnya Tuhan menyuruh rasul Paulus memberitahukan kepada jemaat apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Keterbukaan, komunikasi akan selalu menjadi bagian terpenting bagi kita semua dalam membangun sebuah kebersamaan (Punya contohnya gak yang pernah terjadi?).

Yang terakhir, kemauan untuk sama-sama diubahkan oleh Tuhan.

Masalahnya, biasanya banyak orang hanya menuntut agar orang lain yang harus berubah. Padahal seharusnya yang berubah itu bersama-sama, kedua pihak harus sama-sama berubah.

Contoh: Jangan marah, ya berhenti atuh bikin orang lain kesel hingga marah. Jangan mencuri, ya itu hape jangan di taro sembarangan atuh, kan kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat tapi karena ada kesempatan.

Sama-sama berubah, sama-sama diubahkan.

Doa kita, semoga semua pengalaman yang pernah kita alami dalam membangun kehidupan kebersamaan, entah itu di keluarga, di jemaat atau di lingkungan sekitar kita, membuat kita bisa sama-sama bertumbuh untuk menyingkirkan yang pahit-pahit dan menggantinya dengan kehidupan kebersamaan yang lebih manis lagi untuk kita. Tuhan menolong dan memberkati kita.

Efesus 4:25-5:2 | Cukup Sampai Di Sini

marah
Syalom bapak dan ibu semuanya.
Bacaan renungan kita hari ini menarik. Menariknya karena ada begitu banyak sikap-sikap negatif disebutkan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Efesus. Tujuannya sudah jelas agar mereka membuang hal itu semua dan menggantinya dengan sikap yang baik dan positif.

Coba kita hitung ya ada berapa ...
Buang dusta, jangan berkata kotor, jangan marah, jangan mencuri, buang kepahitan, jangan geram, pertikaian, fitnah, dll.

Saya selalu kepikiran begini, apabila rasul-rasul menuliskan sebuah surat kepada jemaat di sebuah kota yang berisi arahan-arahan firman Tuhan kepada mereka (misalkan yang negatif tadi ya) itu alasannya karena memang sikap-sikap negatif itu ada dalam kehidupan jemaat saat itu. Ada yang berdusta, ada yang marah, ada yang bertikai dan lainnya. Dapat dipahami ya jalan pikiran ini.

Jikalau itu benar-benar terjadi, sekarang bayangkan betapa tidak nyamannya hidup bersama-sama sebagai orang percaya di Efesus waktu itu.

Contoh kecil ni ya: Saya di rumah, kalau lihat istri cemberut tu rasanya gak enak banget. Lha ini coba bayangin apa rasanya dicemberutin se-jemaat (misalnya yang paling ekstrim kejadian di Efesus). Enak? Gak enak.

Di renungan warta saya membahas tentang orang-orang yang menjadi objek menderita dari sikap negatif itu. Kemudian saya tanya: kuat berapa lama orang itu sebelum akhirnya "mental" (misalnya: gak datang-datang gereja lagi; Cukup sampai di sini)

Sayangnya yang namanya hidup bersama-sama dengan orang lain yang ada di sekitar kita, berhadapan dengan sikap-sikap negatif tidak bisa terelakkan. Bahkan gak perlu sampai kejadian sikap negatif itu, bahkan hanya dari kesalahpahaman kecil saja kita bisa jadi "rasa gak enak di hati"

Contoh: Gesture (gerak gerik tubuh) mata saat bersalaman, gak lihat orang yang kita salamin, bisa di artikan apa? Oo dia gak menghargai nih. Padahal kan belum tentu seperti itu.


Nah, hari ini saya mau mengajak kita untuk sama-sama belajar seperti jemaat di Efesus belajar menjadi jemaat yang ... kita nyaman berada di dalamnya.

Yang pertama, jika ada rasa gak enak, jangan diam saja. Mari kita komunikasikan dan dicari solusinya.

Kita tahu kan ya proses terjadinya surat-surat dalam Alkitab kita. Terjadi masalah dalam kehidupan satu jemaat, lalu jemaat itu mengutus orang untuk mengkomunikasikan masalah tersebut kepada rasul-rasul (dalam hal ini jemaat Efesus menceritakan kepada rasul Paulus), lalu rasul Paulus jadi tahu ada masalah, hingga akhirnya Tuhan menyuruh rasul Paulus memberitahukan kepada jemaat apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Keterbukaan, komunikasi akan selalu menjadi bagian terpenting bagi kita semua dalam membangun sebuah kebersamaan (Punya contohnya gak yang pernah terjadi?).

Yang terakhir, kemauan untuk sama-sama diubahkan oleh Tuhan.

Masalahnya, biasanya banyak orang hanya menuntut agar orang lain yang harus berubah. Padahal seharusnya yang berubah itu bersama-sama, kedua pihak harus sama-sama berubah.

Contoh: Jangan marah, ya berhenti atuh bikin orang lain kesel hingga marah. Jangan mencuri, ya itu hape jangan di taro sembarangan atuh, kan kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat tapi karena ada kesempatan.

Sama-sama berubah, sama-sama diubahkan.

Doa kita, semoga semua pengalaman yang pernah kita alami dalam membangun kehidupan kebersamaan, entah itu di keluarga, di jemaat atau di lingkungan sekitar kita, membuat kita bisa sama-sama bertumbuh untuk menyingkirkan yang pahit-pahit dan menggantinya dengan kehidupan kebersamaan yang lebih manis lagi untuk kita. Tuhan menolong dan memberkati kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL