Hidup Bak Sebuah Botol Kosong - Pdt. Gerry Atje

    Social Items



Pada awal abad ini, seorang wanita pergi ke dokternya dengan sebuah daftar keluhat tentang kesehatannya. Dokter itu memeriksanya dengan teliti dan yakin bahwa tidak ada yang tidak beres dengan keadaan fisiknya. Ia mencurigai itu adalah pandangan negatifnya tentang kehidupan, kepahitan dan kebenciannya yang merupakan sebab utama bagi perasaannya itu.


Dokter yang bijak itu kemudian membawa wanita itu masuk ke sebuah ruang belakang kantornya tempat ia menyimpan obat-obatan. Ia memperlihatkan kepada wanita itu sebuah lemari yang berisi botol-botol kosong. 

Dokter itu lalu berkata, “Lihatlah botol-botol ini. Perhatikan bahwa semuanya kosong. Mereka dibentuk berbeda satu sama lainnya, tetapi pada dasarnya semuanya sama. Yang paling penting, mereka tidak menyimpan apa-apa di dalamnya. Sekarang saya bisa mengambil salah satu dari botol-botol ini dan mengisinya dengan racun secukupnya untuk membunuh seseorang. Atau saya bisa mengisinya dengan obat secukupnya untuk menurunkan demam atau meredakan sakit kepala yang mengerikan, atau memusnahkan bakteri dalam salah satu bagian tubuh manusia. Hal yang penting adalah bahwa saya membuat pilihan. Saya bisa mengisinya dengan apa saja yang saya pilih. 

Dokter itu kemudian menatap mata wanita itu dan berkata, “Setiap hari yang diberikan kepada kita pada dasarnya sama seperti salah satu dari botol-botol kosong ini. Kita dapat memilih mengisinya dengan cinta kasih dan pikiran-pikiran positif serta sikap-sikap yang meneguhkan kehidupan atau mengisinya dengan pikiran-pikiran beracun yang menghancurkan. Pilihannya ada pada kita.” 

Brian Cavanough, Rangkaian Kisah Bermakna III, hlm. 35-36. 

Hidup Bak Sebuah Botol Kosong



Pada awal abad ini, seorang wanita pergi ke dokternya dengan sebuah daftar keluhat tentang kesehatannya. Dokter itu memeriksanya dengan teliti dan yakin bahwa tidak ada yang tidak beres dengan keadaan fisiknya. Ia mencurigai itu adalah pandangan negatifnya tentang kehidupan, kepahitan dan kebenciannya yang merupakan sebab utama bagi perasaannya itu.


Dokter yang bijak itu kemudian membawa wanita itu masuk ke sebuah ruang belakang kantornya tempat ia menyimpan obat-obatan. Ia memperlihatkan kepada wanita itu sebuah lemari yang berisi botol-botol kosong. 

Dokter itu lalu berkata, “Lihatlah botol-botol ini. Perhatikan bahwa semuanya kosong. Mereka dibentuk berbeda satu sama lainnya, tetapi pada dasarnya semuanya sama. Yang paling penting, mereka tidak menyimpan apa-apa di dalamnya. Sekarang saya bisa mengambil salah satu dari botol-botol ini dan mengisinya dengan racun secukupnya untuk membunuh seseorang. Atau saya bisa mengisinya dengan obat secukupnya untuk menurunkan demam atau meredakan sakit kepala yang mengerikan, atau memusnahkan bakteri dalam salah satu bagian tubuh manusia. Hal yang penting adalah bahwa saya membuat pilihan. Saya bisa mengisinya dengan apa saja yang saya pilih. 

Dokter itu kemudian menatap mata wanita itu dan berkata, “Setiap hari yang diberikan kepada kita pada dasarnya sama seperti salah satu dari botol-botol kosong ini. Kita dapat memilih mengisinya dengan cinta kasih dan pikiran-pikiran positif serta sikap-sikap yang meneguhkan kehidupan atau mengisinya dengan pikiran-pikiran beracun yang menghancurkan. Pilihannya ada pada kita.” 

Brian Cavanough, Rangkaian Kisah Bermakna III, hlm. 35-36. 

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER