1 Tawarikh 29:10-19 | Andai Aku Bisa Memberi - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Andai Aku Bisa Memberi


Ada satu cerita tentang seorang calon anggota Partai Komunis yang sedang diuji secara lisan oleh atasannya. “Apakah yang akan Anda lakukan andaikata Anda mendapat warisan 2 juta Rubel?” Jawabnya: “Akan saya berikan separuhnya pada Partai dan separuhnya lagi saya simpan sendiri.” 

“Bagus sekali! Lalu apa yang akan Anda lakukan andaikata Anda memiliki dua buah rumah?” Jawabnya: “Akan saya pakai satu untuk diri saya sendiri dan yang satunya lagi saya akan berikan untuk negara.”

“Amat bijaksana! Dan apakah yang akan Anda lakukan jika Anda memiliki dua pasang sepatu?” Kali ini tak ada jawaban cepat keluar dari mulutnya. “Saudaraku, Anda telah memberikan jawaban yang tepat untuk dua buah pertanyaan yang sukar tadi. Mengapa sekarang Anda menjadi ragu-ragu?” 

Jawaban pun keluar dari mulutnya, “Pak ketua, saya tidak memiliki dua juta rubel dan saya pun tidak akan pernah memiliki dua buah rumah. Tetapi saya memiliki dua pasang sepatu dan saya membutuhkan kedua-duanya!” 

Masalah memberi apa yang ada dalam kehidupan kita dan kita rasa itu memang penting dan kita butuh juga ... tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Lebih mudah untuk berandai-andai memberi, ketimbang melakukan pemberian apa yang nyata-nyata ada dalam kehidupan kita. 

Cerita di awal tadi sangat menggambarkan hal itu. Ketika berandai-andai, amat mudah menyatakan saya mau memberi, tetapi ketika tiba pada sesuatu yang nyata ... sangat sulit.

Oleh sebab itulah, ketika kita membaca apa yang menjadi saksi sejarah hidup orang Israel dalam teks Alkitab kita hari ini ... Mengherankan! Bagaimana mereka bisa melakukan hal itu. 

Ayat 14 “ ... memberikan persembahan sukarela ...”, lalu tambahkan pula ayat 17 “ ... tulus ikhlas ... dan sukacita ....” sehingga apa yang mereka rindukan kala itu: Bait Allah, mulai dirintis pembangunannya (ayat 19). 

Kerinduan untuk membangun dan meningkatkan kehidupan ... dalam hal apapun, ... mau itu kehidupan keluarga kek, kehidupan pribadi kek, atau bahkan kehidupan berjemaat ... pasti akan selalu ada dalam diri kita. 

Saat kita kepanasan kalau sedang kebaktian minggu, “duh, enaknya ya kalau gedung gereja kita ini sudah punya langit-langit ... apalagi kalau pake AC” ... Saat kita lagi nganggur nunggu panggilan kerja, “duh, enaknya kalau ada panggilan untuk melaut seperti kemarin.” 

Saya akan selalu ingat perkataan salah satu anggota jemaat kita, “kalau mau enak kita ini di gereja, yuk ah sama-sama kita perjuangkan”. Atau tanya saja kepada keluarga pelaut yang ... agak kelimpungan untuk memberikan dana awal sebelum bisa melaut lagi. Mereka menghimpun dana bersama-sama untuk bisa mewujudkan panggilan untuk melaut lagi.

Sebelum Israel melihat dengan mata kepalanya sendiri bangungan megah bait Allah yang sudah lama mereka nantikan itu, dan saat ini dalam perikop yang kita baca hari ini, mereka mulai merintis apa yang mereka impikan itu, tentu ada “harga yang harus dibayar oleh mereka”. 

Saya mencatat beberapa hal yang membuat mereka berani memberi dan membawa persembahan mereka kepada Tuhan untuk mencapai “harga yang harus dibayar itu” demi impian mereka (memiliki bangunan Bait Allah), untuk kita renungkan bersama hari ini: 

1. Kesadaran bahwa apa yang ada dalam hidup mereka itu sepenuhnya adalah dibawah kepemilikan Tuhan (ayat 11-12). 
2. Bersama-sama, bukan sendirian / one-man-show, mereka bisa melakukan hal-hal yang baik untuk Tuhan: membawa persembahan sukarela (ayat 14). 
3. Pengingatan akan apa yang telah Tuhan lakukan untuk hidup mereka, sehingga mereka mampu menyatakan syukur mereka (ayat 15). 

Dan yang paling susah adalah 
4. Mempertahankan kerinduan untuk terus mewujudkan sesuatu bagi Tuhan (ayat 18) ... 

Akan jauh lebih mudah memang, berandai-andai ... “Ah, andai saja gedung gereja kita ini punya langit-langit ... dan AC” lalu kita pulang, dan beberapa hari kemudian kita kembali berkumpul di sini (di gedung gereja) ... dengan pengandaian yang sama.

1 Tawarikh 29:10-19 | Andai Aku Bisa Memberi

Andai Aku Bisa Memberi


Ada satu cerita tentang seorang calon anggota Partai Komunis yang sedang diuji secara lisan oleh atasannya. “Apakah yang akan Anda lakukan andaikata Anda mendapat warisan 2 juta Rubel?” Jawabnya: “Akan saya berikan separuhnya pada Partai dan separuhnya lagi saya simpan sendiri.” 

“Bagus sekali! Lalu apa yang akan Anda lakukan andaikata Anda memiliki dua buah rumah?” Jawabnya: “Akan saya pakai satu untuk diri saya sendiri dan yang satunya lagi saya akan berikan untuk negara.”

“Amat bijaksana! Dan apakah yang akan Anda lakukan jika Anda memiliki dua pasang sepatu?” Kali ini tak ada jawaban cepat keluar dari mulutnya. “Saudaraku, Anda telah memberikan jawaban yang tepat untuk dua buah pertanyaan yang sukar tadi. Mengapa sekarang Anda menjadi ragu-ragu?” 

Jawaban pun keluar dari mulutnya, “Pak ketua, saya tidak memiliki dua juta rubel dan saya pun tidak akan pernah memiliki dua buah rumah. Tetapi saya memiliki dua pasang sepatu dan saya membutuhkan kedua-duanya!” 

Masalah memberi apa yang ada dalam kehidupan kita dan kita rasa itu memang penting dan kita butuh juga ... tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Lebih mudah untuk berandai-andai memberi, ketimbang melakukan pemberian apa yang nyata-nyata ada dalam kehidupan kita. 

Cerita di awal tadi sangat menggambarkan hal itu. Ketika berandai-andai, amat mudah menyatakan saya mau memberi, tetapi ketika tiba pada sesuatu yang nyata ... sangat sulit.

Oleh sebab itulah, ketika kita membaca apa yang menjadi saksi sejarah hidup orang Israel dalam teks Alkitab kita hari ini ... Mengherankan! Bagaimana mereka bisa melakukan hal itu. 

Ayat 14 “ ... memberikan persembahan sukarela ...”, lalu tambahkan pula ayat 17 “ ... tulus ikhlas ... dan sukacita ....” sehingga apa yang mereka rindukan kala itu: Bait Allah, mulai dirintis pembangunannya (ayat 19). 

Kerinduan untuk membangun dan meningkatkan kehidupan ... dalam hal apapun, ... mau itu kehidupan keluarga kek, kehidupan pribadi kek, atau bahkan kehidupan berjemaat ... pasti akan selalu ada dalam diri kita. 

Saat kita kepanasan kalau sedang kebaktian minggu, “duh, enaknya ya kalau gedung gereja kita ini sudah punya langit-langit ... apalagi kalau pake AC” ... Saat kita lagi nganggur nunggu panggilan kerja, “duh, enaknya kalau ada panggilan untuk melaut seperti kemarin.” 

Saya akan selalu ingat perkataan salah satu anggota jemaat kita, “kalau mau enak kita ini di gereja, yuk ah sama-sama kita perjuangkan”. Atau tanya saja kepada keluarga pelaut yang ... agak kelimpungan untuk memberikan dana awal sebelum bisa melaut lagi. Mereka menghimpun dana bersama-sama untuk bisa mewujudkan panggilan untuk melaut lagi.

Sebelum Israel melihat dengan mata kepalanya sendiri bangungan megah bait Allah yang sudah lama mereka nantikan itu, dan saat ini dalam perikop yang kita baca hari ini, mereka mulai merintis apa yang mereka impikan itu, tentu ada “harga yang harus dibayar oleh mereka”. 

Saya mencatat beberapa hal yang membuat mereka berani memberi dan membawa persembahan mereka kepada Tuhan untuk mencapai “harga yang harus dibayar itu” demi impian mereka (memiliki bangunan Bait Allah), untuk kita renungkan bersama hari ini: 

1. Kesadaran bahwa apa yang ada dalam hidup mereka itu sepenuhnya adalah dibawah kepemilikan Tuhan (ayat 11-12). 
2. Bersama-sama, bukan sendirian / one-man-show, mereka bisa melakukan hal-hal yang baik untuk Tuhan: membawa persembahan sukarela (ayat 14). 
3. Pengingatan akan apa yang telah Tuhan lakukan untuk hidup mereka, sehingga mereka mampu menyatakan syukur mereka (ayat 15). 

Dan yang paling susah adalah 
4. Mempertahankan kerinduan untuk terus mewujudkan sesuatu bagi Tuhan (ayat 18) ... 

Akan jauh lebih mudah memang, berandai-andai ... “Ah, andai saja gedung gereja kita ini punya langit-langit ... dan AC” lalu kita pulang, dan beberapa hari kemudian kita kembali berkumpul di sini (di gedung gereja) ... dengan pengandaian yang sama.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER