1 Raja-raja 21:1-10 | Izebel: Ihhh, Sebelll!! - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

Izebel: Ihhh, Sebelll!! 
1 Raja-raja 21:1-10 




Sewaktu saya mencari bahan untuk mempersiapkan renungan hari ini, saya agak tersenyum sewaktu ada seseorang yang membuat renungan dalam bentuk puisi tentang perikop kita yang dikasih judul: Izebel, ihh sebellll! Tapi saya setuju 100% dengan hal itu. Sewaktu kita melihat tindak-tanduk Izebel dalam perikop kita hari ini, sudah selayaknyalah kita sebel se-sebel-sebelnya.

Coba saya tanya dulu ke bapak dan ibu semua, sebel tidak dengan perilaku Izebel dalam perikop kita hari ini? Sebelkan. Dimana letak sebelnya hayoo?

Seharusnya kisah yang kita baca hari ini bisa sama sekali lain kisahnya dan itu sangat ditentukan oleh peran Izebel sebagai seseorang yang telah Tuhan tempatkan disamping dan di dalam kehidupan Ahab. Kisahnya bisa berbeda sama sekali jika mulai dari ayat 5, skenarionya seperti ini: 

[Ahab masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa]
Izebel: Honey, kenapa mukamu itu cemberut begitu sih? gak ngenakin tau.
Ahab: Sweettty, aku ini kan raja Israel! Semua yang aku mau harusnya bisa ku dapat! Ini kok ada orang yang berani menolak permintaanku?! Aku ini kan Raja! Siapa itu si Nabot, berani-beraninya dia menolak tawaran aku, rajanya! 
Izebel: Emangnya apa sih yang honey keselin dari pak Nabot itu?
Ahab: Itu, kebon anggurnya kan ada di samping istana kita, mau ku beli. tapi dia gak mau. Katanya "ini peninggalan nenek moyangnya". Gitu coba. Aku ini kan Raja! 
Izebel: Iya, honey memang raja israel sekarang. Tapi itu kan bukan berarti semua maunya honey bisa honey rebut. Ingat lho "han, honey itu harus jadi raja yang baik, yang ngayomi rakyat. Lagipula, kebun anggur milik kita kan sudah ber-hektar-hektar, emang masih kurang?
Ahab: Iya yah mah, papa udah salah kali ya. Kebun Anggur milik kita itu sudah berhektar-hektar luasnya. Ya sudahlah, kita syukuri aja apa yang sudah ada pada kita. Itu kan berkat dari Tuhan untuk kita ya. Berkat Tuhan untuk Nabot dan keluarganya, ya kebun anggur warisan nenek moyangnya itu. 
Izebel: nah gitu dong, itu baru papa ku yang paling ganteng sedunia. 

Bandingkan dengan apa yang bapak ibu baca dalam ayat 5-10. Beda banget kan ending ceritanya ya. Sayangnya, kita tidak menemukan kisah manis seperti itu dalam teks Alkitab kita hari ini. Yang terjadi justru ... seperti yang kita bisa baca tadi lah. 


Kita semua seharusnya sebel kepada Izebel. Seseorang yang telah ditempatkan oleh Tuhan untuk mendampingi suami yang terkasih, untuk menjadi penolong dan penopang dan ikut memperjuangkan Kebenaran, tetapi justru membuat Ahab semakin terjerumus dalam tindakannya yang salah: "cemberut karena apa yang diinginkannya itu tidak tercapai".

Berharap bapak dan ibu tidak salah paham, saya tidak sedang mempersalahkan Izebel seorang. Kita seharusnya sebel kepada dua-duanya. Baik kepada Ahab yang "bikin masalah" duluan, dan juga kepada Izebel yang semakin "menambah runyam masalah". Justru disitulah letak satu hal yang mau kita renungkan hari ini.

Betapa pentingnya arti kehadiran seseorang yang ada di sekitar kehidupan kita. istri, suami, anak, tetangga di samping rumah kita, atau bahkan saudara seiman kita di gereja. Mereka semua yang ada disekitar kita, bisa menjadi "penolong" dan sayangnya di sisi yang lain, mereka juga bisa menjadi "penjerumus" di dalam kehidupan kita hari ini.

bapak ibu, kita ini berperan sebagai apa dalam lingkungan kehidupan di sekitar kita? Mana mau ada yang jadi penjerumus? Kita semua ingin kita bisa menolong orang lain yang ada dalam kehidupan kita. Benar begitu kan ya.

Satu contoh yang paling mungkin terjadi baru-baru ini, Ujian Nasional. Saya dapat data tentang hasil UN tahun ini: 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh, mengumumkan sebayak 1.573.036 dari 1.581.286 atau 99,48 persen berhasil menamatkan studinya pada jenjang pendidikan SMA. Sedangkan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dinyatakan lulus sebanyak 1.105.539 dari jumlah peserta 1.106.140 atau sebanyak 99,95 persen. Melihat data tersebut maka jumlah peserta ujian nasional yang tidak lulus sebanyak 0,52 persen siswa SMA dan 0,05 persen siswa SMK. Jika melihat persentase ketidaklulusan tersebut seolah tampak tidak signifikan, tetapi jika dilihat dari jumlahnya angka 0,52 persen dan 0,05 persen tersebut mengacu pada 8.250 orang siswa SMA dan 601 orang siswa SMK. Tampaknya jumlah tersebut tidak bisa dikatakan jumlah yang sedikit. Siswa yang tidak lulus disebabkan oleh nilai rata-rata di bawah 5,5. Namun jika nilai rata-rata di atas 5,5 seorang siswa bisa dinyatakan tidak lulus apabila ada salah satu pelajaran yang nilainya di bawah 4.
Sumber: http://mjeducation.co/gagal-un-bukan-akhir-segalanya/
Kita patut bersyukur bahwa anak-anak kita semua lulus ujian, tetapi pernahkah terbayangkan oleh kita bila yang 8.250 anak SMA dan 601 anak SMK yang disebutkan di sana, salah satunya adalah anak kita? Apa yang akan ibu lakukan? Menjadi seorang penolong atau ... . Tak ada satu anakpun di dunia ini yang ingin mereka gagal ujian di dunia ini. Menghadapi kenyataan bahwa mereka gagal saja, itu sudah sangat teramat berat bagi mereka. Apa yang akan ibu dan bapak lakukan jika salah satu itu adalah anak kita? 

Atau bagaimana bila salah satu yang disebutkan oleh data berikut ini adalah orang yang ada di dekat kita: Mereka yang masih menganggur.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran di Indonesia hingga Februari 2013 mengalami penurunan menjadi 7,17 juta orang dibanding Agustus 2012 yang mencapai 7,24 juta orang.
Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/05/06/15031042/twitter.com 
Bapak ibu bisa bayangkan stress nya seseorang yang menganggur, sebab tak ada orang yang mau jadi pengangguran, bahkan untuk mereka-mereka yang sampai hari ini masih menganggur. Mereka gak mau itu terjadi dalam hidup mereka. Setiap kita inginnya melakukan sesuatu untuk masa depan keluarga kita. Benarkan ya.

Tetapi bila hari ini hal itu terjadi dalam kehidupan orang yang ada di dalam hidup kita, apa yang bapak, ibu lakukan? Anak udah disekolahin tinggi-tinggi tapi masih nganggur sampai sekarang? Suami yang sudah bertahun-tahun jobless (tak lagi bekerja karena PHK). Apa yang akan ibu lakukan? menjadi seorang penolong yang terus memberikan iman bahwa "kamu pasti akan bekerja tepat pada waktunya" dan semangat tak henti, atau ...

Dan masih banyak hal lainnya yang bisa terjadi dalam kehidupan kita hari ini, tepat di saat itu kita harus memilih: menjadi seorang yang menolong, atau menjadi seorang yang menyebalkan. Jadi apa yang bapak ibu pilih? Pilihan kita menentukan hasil akhir dari sepotong kisah cerita kita.

1 Raja-raja 21:1-10 | Izebel: Ihhh, Sebelll!!

Izebel: Ihhh, Sebelll!! 
1 Raja-raja 21:1-10 




Sewaktu saya mencari bahan untuk mempersiapkan renungan hari ini, saya agak tersenyum sewaktu ada seseorang yang membuat renungan dalam bentuk puisi tentang perikop kita yang dikasih judul: Izebel, ihh sebellll! Tapi saya setuju 100% dengan hal itu. Sewaktu kita melihat tindak-tanduk Izebel dalam perikop kita hari ini, sudah selayaknyalah kita sebel se-sebel-sebelnya.

Coba saya tanya dulu ke bapak dan ibu semua, sebel tidak dengan perilaku Izebel dalam perikop kita hari ini? Sebelkan. Dimana letak sebelnya hayoo?

Seharusnya kisah yang kita baca hari ini bisa sama sekali lain kisahnya dan itu sangat ditentukan oleh peran Izebel sebagai seseorang yang telah Tuhan tempatkan disamping dan di dalam kehidupan Ahab. Kisahnya bisa berbeda sama sekali jika mulai dari ayat 5, skenarionya seperti ini: 

[Ahab masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa]
Izebel: Honey, kenapa mukamu itu cemberut begitu sih? gak ngenakin tau.
Ahab: Sweettty, aku ini kan raja Israel! Semua yang aku mau harusnya bisa ku dapat! Ini kok ada orang yang berani menolak permintaanku?! Aku ini kan Raja! Siapa itu si Nabot, berani-beraninya dia menolak tawaran aku, rajanya! 
Izebel: Emangnya apa sih yang honey keselin dari pak Nabot itu?
Ahab: Itu, kebon anggurnya kan ada di samping istana kita, mau ku beli. tapi dia gak mau. Katanya "ini peninggalan nenek moyangnya". Gitu coba. Aku ini kan Raja! 
Izebel: Iya, honey memang raja israel sekarang. Tapi itu kan bukan berarti semua maunya honey bisa honey rebut. Ingat lho "han, honey itu harus jadi raja yang baik, yang ngayomi rakyat. Lagipula, kebun anggur milik kita kan sudah ber-hektar-hektar, emang masih kurang?
Ahab: Iya yah mah, papa udah salah kali ya. Kebun Anggur milik kita itu sudah berhektar-hektar luasnya. Ya sudahlah, kita syukuri aja apa yang sudah ada pada kita. Itu kan berkat dari Tuhan untuk kita ya. Berkat Tuhan untuk Nabot dan keluarganya, ya kebun anggur warisan nenek moyangnya itu. 
Izebel: nah gitu dong, itu baru papa ku yang paling ganteng sedunia. 

Bandingkan dengan apa yang bapak ibu baca dalam ayat 5-10. Beda banget kan ending ceritanya ya. Sayangnya, kita tidak menemukan kisah manis seperti itu dalam teks Alkitab kita hari ini. Yang terjadi justru ... seperti yang kita bisa baca tadi lah. 


Kita semua seharusnya sebel kepada Izebel. Seseorang yang telah ditempatkan oleh Tuhan untuk mendampingi suami yang terkasih, untuk menjadi penolong dan penopang dan ikut memperjuangkan Kebenaran, tetapi justru membuat Ahab semakin terjerumus dalam tindakannya yang salah: "cemberut karena apa yang diinginkannya itu tidak tercapai".

Berharap bapak dan ibu tidak salah paham, saya tidak sedang mempersalahkan Izebel seorang. Kita seharusnya sebel kepada dua-duanya. Baik kepada Ahab yang "bikin masalah" duluan, dan juga kepada Izebel yang semakin "menambah runyam masalah". Justru disitulah letak satu hal yang mau kita renungkan hari ini.

Betapa pentingnya arti kehadiran seseorang yang ada di sekitar kehidupan kita. istri, suami, anak, tetangga di samping rumah kita, atau bahkan saudara seiman kita di gereja. Mereka semua yang ada disekitar kita, bisa menjadi "penolong" dan sayangnya di sisi yang lain, mereka juga bisa menjadi "penjerumus" di dalam kehidupan kita hari ini.

bapak ibu, kita ini berperan sebagai apa dalam lingkungan kehidupan di sekitar kita? Mana mau ada yang jadi penjerumus? Kita semua ingin kita bisa menolong orang lain yang ada dalam kehidupan kita. Benar begitu kan ya.

Satu contoh yang paling mungkin terjadi baru-baru ini, Ujian Nasional. Saya dapat data tentang hasil UN tahun ini: 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh, mengumumkan sebayak 1.573.036 dari 1.581.286 atau 99,48 persen berhasil menamatkan studinya pada jenjang pendidikan SMA. Sedangkan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dinyatakan lulus sebanyak 1.105.539 dari jumlah peserta 1.106.140 atau sebanyak 99,95 persen. Melihat data tersebut maka jumlah peserta ujian nasional yang tidak lulus sebanyak 0,52 persen siswa SMA dan 0,05 persen siswa SMK. Jika melihat persentase ketidaklulusan tersebut seolah tampak tidak signifikan, tetapi jika dilihat dari jumlahnya angka 0,52 persen dan 0,05 persen tersebut mengacu pada 8.250 orang siswa SMA dan 601 orang siswa SMK. Tampaknya jumlah tersebut tidak bisa dikatakan jumlah yang sedikit. Siswa yang tidak lulus disebabkan oleh nilai rata-rata di bawah 5,5. Namun jika nilai rata-rata di atas 5,5 seorang siswa bisa dinyatakan tidak lulus apabila ada salah satu pelajaran yang nilainya di bawah 4.
Sumber: http://mjeducation.co/gagal-un-bukan-akhir-segalanya/
Kita patut bersyukur bahwa anak-anak kita semua lulus ujian, tetapi pernahkah terbayangkan oleh kita bila yang 8.250 anak SMA dan 601 anak SMK yang disebutkan di sana, salah satunya adalah anak kita? Apa yang akan ibu lakukan? Menjadi seorang penolong atau ... . Tak ada satu anakpun di dunia ini yang ingin mereka gagal ujian di dunia ini. Menghadapi kenyataan bahwa mereka gagal saja, itu sudah sangat teramat berat bagi mereka. Apa yang akan ibu dan bapak lakukan jika salah satu itu adalah anak kita? 

Atau bagaimana bila salah satu yang disebutkan oleh data berikut ini adalah orang yang ada di dekat kita: Mereka yang masih menganggur.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran di Indonesia hingga Februari 2013 mengalami penurunan menjadi 7,17 juta orang dibanding Agustus 2012 yang mencapai 7,24 juta orang.
Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/05/06/15031042/twitter.com 
Bapak ibu bisa bayangkan stress nya seseorang yang menganggur, sebab tak ada orang yang mau jadi pengangguran, bahkan untuk mereka-mereka yang sampai hari ini masih menganggur. Mereka gak mau itu terjadi dalam hidup mereka. Setiap kita inginnya melakukan sesuatu untuk masa depan keluarga kita. Benarkan ya.

Tetapi bila hari ini hal itu terjadi dalam kehidupan orang yang ada di dalam hidup kita, apa yang bapak, ibu lakukan? Anak udah disekolahin tinggi-tinggi tapi masih nganggur sampai sekarang? Suami yang sudah bertahun-tahun jobless (tak lagi bekerja karena PHK). Apa yang akan ibu lakukan? menjadi seorang penolong yang terus memberikan iman bahwa "kamu pasti akan bekerja tepat pada waktunya" dan semangat tak henti, atau ...

Dan masih banyak hal lainnya yang bisa terjadi dalam kehidupan kita hari ini, tepat di saat itu kita harus memilih: menjadi seorang yang menolong, atau menjadi seorang yang menyebalkan. Jadi apa yang bapak ibu pilih? Pilihan kita menentukan hasil akhir dari sepotong kisah cerita kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER