Mazmur 23:1-6 | Beban Yang Bukan Dimaksudkan Untuk Kita Pikul Sendirian - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

atlas memikul dunia
Wow! Mazmur 23! Salah satu bagian Alkitab paling favorit dalam Alkitab, paling populer di kalangan orang percaya. Kalau ibaratnya di sekolahan, Mazmur 23 itu mirip kayak cewek idaman se-sekolahan deh. Semua cowok-cowok tahu, kenal dan pengen bisa akrab sama ni cewek, karena dianggap salah satu yang paling memesona sejagad dunia (lebay yah).

Siapa di antara kita sekarang yang belum pernah barang sekali pun mendengar Mazmur 23? Membaca Mazmur 23? Atau bahkan belum pernah menyanyikan gubahan lagu dari Mazmur 23 ini? Gak ada kan.

Jujur aja pak, bu, akang, teteh, hal itulah yang paling membuat saya bingung ketika hari ini kita mau merenungkan Mazmur 23. Saya bingung karena saya tahu pasti kita semua tahu, kenal dan akrab dengan Mazmur 23 ini (tapi untungnya sekarang saya dah gak bingung lagi, makanya bisa share sesuatu hari ini tentang Mazmur 23).

Ketika Daud menuliskan Mazmur 23, ini adalah kesaksian dirinya tentang hubungannya dengan Tuhan. Bagaimana Daud menggambarkan hubungannya dengan Tuhan itupun sangat-sangat dikenal dan ngena pada orang-orang di masa Daud: Tuhan itu gembala dan kita adalah domba-domba-Nya. Kalau kita mau jujur sekali lagi dengan Mazmur 23 ini, kita akan menyadari betapa kesaksian Daud ini adalah gambaran yang sangat ideal sekali.

Hari ini kita ingin melihat "apakah sewaktu aku (kita) membaca Mazmur 23 ini, kita bisa menemukan diri kita sendiri ada dalam jiwa kesaksian Daud?" Apakah kesaksian pemazmur adalah betul-betul merupakan kesaksian diri kita pribadi juga?

Mari kita cek.
Bacalah sekali lagi Mazmur 23 ini dengan cara mengganti kata "aku" dengan menggunakan nama kita sendiri masing-masing.

Tuhan adalah gembala (ku: Gerry)

Kita hidup di dunia sekarang itu seperti seseorang yang sedang melakukan perjalanan panjang untuk pulang. Tuhan adalah gembala ku, itu artinya Tuhanlah yang menjadi pandu - petunjuk jalan dalam perjalanan kita. Seharusnya begitu.

Tapi sekarang pertanyaan pentingnya adalah: "Yakin nih kalau Tuhan yang menjadi gembala kita? Tuhan yang menjadi pandu - petunjuk jalan bagi kita?"

Yesaya 53:6a
"Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri"

Bukankah itu yang menjadi permasalahan banyak orang - kita ingin melakukan segala sesuatunya dalam perjalanan kita ini dengan "cara kita - kehendak kita sendiri". Ujung-ujungnya mudah sekali ditebak. Perjalanan kita makin terasa berat, karena kita sering nyasar - tersesat dalam perjalanan kita itu.

Kenapa kok kita sering kali nyasar dan tersesat? Mungkin karena kita terlalu dibebani oleh begitu banyaknya "barang bawaan yang ingin kita bawa. Beban barang bawaan yang membuat kita melakukan segala sesuatu dalam perjalanan hidup kita ini dengan "caraku - kehendakku". Bukan dengan "cara Tuhan - kehendak Tuhan" (Kalau mau pake bahasa lagu di KJ, bukannya "Suara-Mu ku dengar", tapi "bagaimana dengan suara ku sendiri?")

Padahal suara Tuhan selalu berbisik pada kita:
"Letakkanlah semua beban bawaan kita itu. Kamu membawa beban yang sebetulnya tidak dimaksudkan untuk kamu pikul sendirian"

Takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntunku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Bukankah ini beban yang seringkali kita ingin bawa dalam perjalanan kita? "Tuhan, segini itu kurang, gak cukup. Cuma segini itu gak cukup buatku, apalagi buat keluargaku. Aku ingin lebih dari yang ini, Tuhan."

Beban keinginan, dan kawan-kawannya. Kita menginginkan lebih, karena kita memikul beban tidak pernah merasa cukup. Kita memikul beban tidak pernah merasa cukup karena kita juga memiliki beban ketidak-puasan. Kenapa kita selalu merasa tidak cukup? Kenapa kita selalu merasa tidak puas? Karena kita memikul beban kekuatiran. Kita kuatir: mau makan apa hari ini? Kuatir di bilang kuno lah, kuatir gak dapat jodohlah, semua hal bisa kita kuatirkan bukan.

Kalau kita mau menjalani perjalanan kehidupan kita ini dengan lebih ringan, satu-satunya cara adalah dengan melepaskan beban-beban itu dan biarkan Allah, gembala kita itu, yang menangani - mengatasi beban-beban kita.


Ada cerita,
Pada suatu hari seorang turis sedang jalan-jalan di pantai. Lalu ia menjumpai seorang nelayan yang sedang tiur-tiduran di samping perahunya. "Kamu gak nangkep ikan? Kok malah tidur-tiduran, males-malesan?" tanya turis itu. "Oh saya sudah cukup menangkap ikan hari ini pak," jawab nelayan. "Iya, tapi kenapa kamu gak berusaha untuk menangkap ikan lebih banyak lagi? turis melanjutkan pertanyaannya. "Untuk apa?" jawab nelayan dengan cepat. "Ya untuk dijuallah, kan uangnya bisa kamu gunakan untuk membeli jaring yang lebih besar lagi, membeli kapal yang lebih besar lagi." turis menjelaskan. "Lalu setelah itu?" tanya nelayan. "Biar uang kamu banyak, kamu bisa kaya raya dan kamu bisa santai menjalani kehidupan ini," kata turis. Kemudian nelayan itu tersenyum dan berkata, "Santai? Bukankah itu yang sedang aku lakukan sekarang?"

Sepertinya kita butuh banyak belajar untuk bisa mencukupkan diri dalam segala keadaan (ingat doa bapa kami? "Secukupnya") - teori pas. Belajar untuk bersyukur untuk semua berkat yang Tuhan berikan untuk kita. Dan hambatan utama kita untuk bisa bersyukur selalu adalah banyak orang yang berpikir bahwa segala sesuatunya supaya bisa bersyukur itu diukur dengan "berapa banyak uang kita". Tidak tepat.

Dengan uang kita mungkin kita bisa membeli sebuah tempat tidur yang paling mewah, tetapi uang tidak bisa membeli tidur yang nyenyak. Uang mungkin bisa membeli kesenangan, tetapi uang tak pernah mampu membeli kebahagiaan. Apakah uang bisa membeli saat yang menggembirakan? Jelas. Akan tetapi, uang tak pernah mampu terbukti bisa membeli kedamaian yang sejati.

Apa sih yang kita cari di dunia ini?
Kita hampir selalu mencari satu titik di mana kita merasa "aman dan nyaman". Itu artinya kita sedang memikul beban yang satu lagi, beban mencari rasa "aman dan nyaman" dalam segala hal di tengah kehidupan kita, pekerjaan, keluarga. Sehingga wajar sekali jika ada seseorang yang mungkin mengejar atau ngimpi-ngimpiin 'kapan ya saya naik gaji'? Karena pas naik gaji kan saya bisa beli ini - itu, berbuat baik begini - begitu. Hasilnya, kita selalu mencari satu titik impian di mana kita. akhirnya merasa "aman dan nyaman". "Nanti kalau saya gajinya sudah 10 jutaan baru deh saya pasti aman dan nyaman".

Pertanyaan saya sekarang adalah,
"Emang bener nih ada tuh yang namanya "titik aman dan nyaman?" Bukankah ketika kita merasa sudah berada tepat di titik "aman dan nyaman" versi kita (meskipun masih dalam impian), bukankah itu artinya kita sebenarnya hanya tidak sedang menyadari di mana letak "ketidak-amanan dan ketidak-nyamanan" dalam situasi yang kita pikir "aman dan nyaman" itu?

Atau kalau mau pake bahasa pemazmur sekarang, kita sebetulnya cuma gak sadar aja bahwa ada juga "lembah kekelaman" dalam situasi yang kita pikir, "ah, di sana pasti aku aman dan nyaman". Kesimpulannya sederhana, titik aman dan nyaman yang ditawarkan oleh dunia ini pasti tidak akan pernah ada. "Lembah kekelaman" akan selalu ada di sisi kanan, kiri, depan, belakang. "Dia" ada mengikuti langkah perjalanan kita.

Jika demikian adanya, apa artinya memiliki iman?
Beriman menurut saya adalah tetap merasa 'aman dan nyaman' meskipun kita tahu dan sadar ada situasi tidak-aman dan tidak-nyaman (lembah kekelaman, kata pemazmur) di sekitar kehidupan kita sekarang ini.

Lepaskan beban itu, beban perasaan tidak aman dan tidak nyaman. Karena ketika kita berjalan bersama-sama dengan Tuhan, ketika Tuhan memandu langkah kita, kita bisa berkata:

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab engkau besertaku; Gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan para lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dnegan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa.

Tuhan Yesus sendiri mengatakan kepada kita, "Marilah, datanglah kepada-Ku, semua (siapa saja) yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28)

Jika ada di antara kita sekarang yang sudah cukup lelah, capek karena beban yang kita pikul itu berat, Dia mengundang kita untuk datang dan mendengar suara-Nya yang selalu berbisik lembut pada kita:

"Gerry ... kamu membawa beban yang bukan dimaksudkan untuk kamu pikul sendirian. Serahkanlah bebanmu itu kepada-Ku. Aku akan memberi kelegaan kepadamu."

Mazmur 23:1-6 | Beban Yang Bukan Dimaksudkan Untuk Kita Pikul Sendirian

atlas memikul dunia
Wow! Mazmur 23! Salah satu bagian Alkitab paling favorit dalam Alkitab, paling populer di kalangan orang percaya. Kalau ibaratnya di sekolahan, Mazmur 23 itu mirip kayak cewek idaman se-sekolahan deh. Semua cowok-cowok tahu, kenal dan pengen bisa akrab sama ni cewek, karena dianggap salah satu yang paling memesona sejagad dunia (lebay yah).

Siapa di antara kita sekarang yang belum pernah barang sekali pun mendengar Mazmur 23? Membaca Mazmur 23? Atau bahkan belum pernah menyanyikan gubahan lagu dari Mazmur 23 ini? Gak ada kan.

Jujur aja pak, bu, akang, teteh, hal itulah yang paling membuat saya bingung ketika hari ini kita mau merenungkan Mazmur 23. Saya bingung karena saya tahu pasti kita semua tahu, kenal dan akrab dengan Mazmur 23 ini (tapi untungnya sekarang saya dah gak bingung lagi, makanya bisa share sesuatu hari ini tentang Mazmur 23).

Ketika Daud menuliskan Mazmur 23, ini adalah kesaksian dirinya tentang hubungannya dengan Tuhan. Bagaimana Daud menggambarkan hubungannya dengan Tuhan itupun sangat-sangat dikenal dan ngena pada orang-orang di masa Daud: Tuhan itu gembala dan kita adalah domba-domba-Nya. Kalau kita mau jujur sekali lagi dengan Mazmur 23 ini, kita akan menyadari betapa kesaksian Daud ini adalah gambaran yang sangat ideal sekali.

Hari ini kita ingin melihat "apakah sewaktu aku (kita) membaca Mazmur 23 ini, kita bisa menemukan diri kita sendiri ada dalam jiwa kesaksian Daud?" Apakah kesaksian pemazmur adalah betul-betul merupakan kesaksian diri kita pribadi juga?

Mari kita cek.
Bacalah sekali lagi Mazmur 23 ini dengan cara mengganti kata "aku" dengan menggunakan nama kita sendiri masing-masing.

Tuhan adalah gembala (ku: Gerry)

Kita hidup di dunia sekarang itu seperti seseorang yang sedang melakukan perjalanan panjang untuk pulang. Tuhan adalah gembala ku, itu artinya Tuhanlah yang menjadi pandu - petunjuk jalan dalam perjalanan kita. Seharusnya begitu.

Tapi sekarang pertanyaan pentingnya adalah: "Yakin nih kalau Tuhan yang menjadi gembala kita? Tuhan yang menjadi pandu - petunjuk jalan bagi kita?"

Yesaya 53:6a
"Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri"

Bukankah itu yang menjadi permasalahan banyak orang - kita ingin melakukan segala sesuatunya dalam perjalanan kita ini dengan "cara kita - kehendak kita sendiri". Ujung-ujungnya mudah sekali ditebak. Perjalanan kita makin terasa berat, karena kita sering nyasar - tersesat dalam perjalanan kita itu.

Kenapa kok kita sering kali nyasar dan tersesat? Mungkin karena kita terlalu dibebani oleh begitu banyaknya "barang bawaan yang ingin kita bawa. Beban barang bawaan yang membuat kita melakukan segala sesuatu dalam perjalanan hidup kita ini dengan "caraku - kehendakku". Bukan dengan "cara Tuhan - kehendak Tuhan" (Kalau mau pake bahasa lagu di KJ, bukannya "Suara-Mu ku dengar", tapi "bagaimana dengan suara ku sendiri?")

Padahal suara Tuhan selalu berbisik pada kita:
"Letakkanlah semua beban bawaan kita itu. Kamu membawa beban yang sebetulnya tidak dimaksudkan untuk kamu pikul sendirian"

Takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntunku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Bukankah ini beban yang seringkali kita ingin bawa dalam perjalanan kita? "Tuhan, segini itu kurang, gak cukup. Cuma segini itu gak cukup buatku, apalagi buat keluargaku. Aku ingin lebih dari yang ini, Tuhan."

Beban keinginan, dan kawan-kawannya. Kita menginginkan lebih, karena kita memikul beban tidak pernah merasa cukup. Kita memikul beban tidak pernah merasa cukup karena kita juga memiliki beban ketidak-puasan. Kenapa kita selalu merasa tidak cukup? Kenapa kita selalu merasa tidak puas? Karena kita memikul beban kekuatiran. Kita kuatir: mau makan apa hari ini? Kuatir di bilang kuno lah, kuatir gak dapat jodohlah, semua hal bisa kita kuatirkan bukan.

Kalau kita mau menjalani perjalanan kehidupan kita ini dengan lebih ringan, satu-satunya cara adalah dengan melepaskan beban-beban itu dan biarkan Allah, gembala kita itu, yang menangani - mengatasi beban-beban kita.


Ada cerita,
Pada suatu hari seorang turis sedang jalan-jalan di pantai. Lalu ia menjumpai seorang nelayan yang sedang tiur-tiduran di samping perahunya. "Kamu gak nangkep ikan? Kok malah tidur-tiduran, males-malesan?" tanya turis itu. "Oh saya sudah cukup menangkap ikan hari ini pak," jawab nelayan. "Iya, tapi kenapa kamu gak berusaha untuk menangkap ikan lebih banyak lagi? turis melanjutkan pertanyaannya. "Untuk apa?" jawab nelayan dengan cepat. "Ya untuk dijuallah, kan uangnya bisa kamu gunakan untuk membeli jaring yang lebih besar lagi, membeli kapal yang lebih besar lagi." turis menjelaskan. "Lalu setelah itu?" tanya nelayan. "Biar uang kamu banyak, kamu bisa kaya raya dan kamu bisa santai menjalani kehidupan ini," kata turis. Kemudian nelayan itu tersenyum dan berkata, "Santai? Bukankah itu yang sedang aku lakukan sekarang?"

Sepertinya kita butuh banyak belajar untuk bisa mencukupkan diri dalam segala keadaan (ingat doa bapa kami? "Secukupnya") - teori pas. Belajar untuk bersyukur untuk semua berkat yang Tuhan berikan untuk kita. Dan hambatan utama kita untuk bisa bersyukur selalu adalah banyak orang yang berpikir bahwa segala sesuatunya supaya bisa bersyukur itu diukur dengan "berapa banyak uang kita". Tidak tepat.

Dengan uang kita mungkin kita bisa membeli sebuah tempat tidur yang paling mewah, tetapi uang tidak bisa membeli tidur yang nyenyak. Uang mungkin bisa membeli kesenangan, tetapi uang tak pernah mampu membeli kebahagiaan. Apakah uang bisa membeli saat yang menggembirakan? Jelas. Akan tetapi, uang tak pernah mampu terbukti bisa membeli kedamaian yang sejati.

Apa sih yang kita cari di dunia ini?
Kita hampir selalu mencari satu titik di mana kita merasa "aman dan nyaman". Itu artinya kita sedang memikul beban yang satu lagi, beban mencari rasa "aman dan nyaman" dalam segala hal di tengah kehidupan kita, pekerjaan, keluarga. Sehingga wajar sekali jika ada seseorang yang mungkin mengejar atau ngimpi-ngimpiin 'kapan ya saya naik gaji'? Karena pas naik gaji kan saya bisa beli ini - itu, berbuat baik begini - begitu. Hasilnya, kita selalu mencari satu titik impian di mana kita. akhirnya merasa "aman dan nyaman". "Nanti kalau saya gajinya sudah 10 jutaan baru deh saya pasti aman dan nyaman".

Pertanyaan saya sekarang adalah,
"Emang bener nih ada tuh yang namanya "titik aman dan nyaman?" Bukankah ketika kita merasa sudah berada tepat di titik "aman dan nyaman" versi kita (meskipun masih dalam impian), bukankah itu artinya kita sebenarnya hanya tidak sedang menyadari di mana letak "ketidak-amanan dan ketidak-nyamanan" dalam situasi yang kita pikir "aman dan nyaman" itu?

Atau kalau mau pake bahasa pemazmur sekarang, kita sebetulnya cuma gak sadar aja bahwa ada juga "lembah kekelaman" dalam situasi yang kita pikir, "ah, di sana pasti aku aman dan nyaman". Kesimpulannya sederhana, titik aman dan nyaman yang ditawarkan oleh dunia ini pasti tidak akan pernah ada. "Lembah kekelaman" akan selalu ada di sisi kanan, kiri, depan, belakang. "Dia" ada mengikuti langkah perjalanan kita.

Jika demikian adanya, apa artinya memiliki iman?
Beriman menurut saya adalah tetap merasa 'aman dan nyaman' meskipun kita tahu dan sadar ada situasi tidak-aman dan tidak-nyaman (lembah kekelaman, kata pemazmur) di sekitar kehidupan kita sekarang ini.

Lepaskan beban itu, beban perasaan tidak aman dan tidak nyaman. Karena ketika kita berjalan bersama-sama dengan Tuhan, ketika Tuhan memandu langkah kita, kita bisa berkata:

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab engkau besertaku; Gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan para lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dnegan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa.

Tuhan Yesus sendiri mengatakan kepada kita, "Marilah, datanglah kepada-Ku, semua (siapa saja) yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28)

Jika ada di antara kita sekarang yang sudah cukup lelah, capek karena beban yang kita pikul itu berat, Dia mengundang kita untuk datang dan mendengar suara-Nya yang selalu berbisik lembut pada kita:

"Gerry ... kamu membawa beban yang bukan dimaksudkan untuk kamu pikul sendirian. Serahkanlah bebanmu itu kepada-Ku. Aku akan memberi kelegaan kepadamu."

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER