Telemakhus - Pdt. Gerry Atje
Pada abad keempat adalah seorang rahib yang bernama Telemakhus. Walau kekristenan pada waktu itu telah menjadi agama resmi kekaisaran Romawi (tahun 313), pola hidup dan kebiasaan masyarakat belum banyak terpengaruh oleh kekristenan itu sendiri. Orang-orang Roma masih menyenangi kematian gladiator yang kalah dalam pertarungan di stadion Koloseum. Mereka adalah penonton yang haus darah.


Pada suatu hari, ketika pertarungan antar gladiator sedang berlangsung seru, ditimpali pekik dan sorak para penonton, seorang yang berjubah hitam, yang tak lain adalah Telemakhus, melompat masuk ke dalam arena. Pakaian yang dikenakannya sungguh kontras dengan pakaian baja yang mengkilap, yang dipakai oleh para gladiator.

Ia menyorongkan tubuhnya ke tengah-tengah para gladiator yang sedang bertarung itu, berusaha untuk memisah dan melerai mereka. Tak berapa lama kemudian, dengan pekikan penonton yang semakin beringas, Telemakhus pun rebah, mati di arena.

Namun kematiannya tidak sia-sia. Paling tidak, sang Kaisar tersentuh hatinya menyaksikan kematian Telemakhus. Sebuah dekrit pun akhirnya dikeluarkan. Dekrit itu mengatakan bahwa pertarungan gladiator tidak lagi diperkenankan. Pengorbanan tak pernah berakhir sia-sia.

Herodian Pitakarya Gunawan, 94 Panorama Kehidupan (Yogyakarta: Andi, 1996), 136

Telemakhus

Pada abad keempat adalah seorang rahib yang bernama Telemakhus. Walau kekristenan pada waktu itu telah menjadi agama resmi kekaisaran Romawi (tahun 313), pola hidup dan kebiasaan masyarakat belum banyak terpengaruh oleh kekristenan itu sendiri. Orang-orang Roma masih menyenangi kematian gladiator yang kalah dalam pertarungan di stadion Koloseum. Mereka adalah penonton yang haus darah.


Pada suatu hari, ketika pertarungan antar gladiator sedang berlangsung seru, ditimpali pekik dan sorak para penonton, seorang yang berjubah hitam, yang tak lain adalah Telemakhus, melompat masuk ke dalam arena. Pakaian yang dikenakannya sungguh kontras dengan pakaian baja yang mengkilap, yang dipakai oleh para gladiator.

Ia menyorongkan tubuhnya ke tengah-tengah para gladiator yang sedang bertarung itu, berusaha untuk memisah dan melerai mereka. Tak berapa lama kemudian, dengan pekikan penonton yang semakin beringas, Telemakhus pun rebah, mati di arena.

Namun kematiannya tidak sia-sia. Paling tidak, sang Kaisar tersentuh hatinya menyaksikan kematian Telemakhus. Sebuah dekrit pun akhirnya dikeluarkan. Dekrit itu mengatakan bahwa pertarungan gladiator tidak lagi diperkenankan. Pengorbanan tak pernah berakhir sia-sia.

Herodian Pitakarya Gunawan, 94 Panorama Kehidupan (Yogyakarta: Andi, 1996), 136

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL