1 Raja-Raja 12:1-24 | Ketika Tuhan Mendidik Umat-Nya - Pdt. Gerry Atje
Ketika Tuhan Mau Mendidik Umat-Nya ...
1 Raja-Raja 12:1-24
Saya bingung membaca firman Tuhan hari ini, benar benar bingung.
Awalnya saya, mungkin sama seperti yang dipikirkan oleh bapak ibu sewaktu membaca bagian Alkitab kita hari ini, ... saya berpikir bahwa apa yang dilakukan oleh Rehabeam yang "tidak mendengarkan permintaan rakyat" ... itu adalah sebuah kesalahan yang fatal. Sebab hal itulah yang menyebabkan perpecahan dalam kerajaan Israel setelah Salomo mangkat (1 Raja-Raja 11:43).
Kebingungan saya karena dua ayat ini:
Ayat 15:
Jadi raja tidak mendengarkan permintaan rakyat, sebab hal itu merupakan perubahan yang disebabkan TUHAN, supaya TUHAN menepati firman yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Ahia, orang Silo, kepada Yerobeam bin Nebat.
yang kemudian ditegaskan kembali dalam ayat 23-24:
"Katakanlah kepada Rehabeam, anak Salomo, raja Yehuda, dan kepada segenap kaum Yehuda dan Benyamin dan kepada selebihnya dari bangsa itu: Beginilah firman TUHAN: Janganlah kamu maju dan janganlah kamu berperang melawan saudara-saudaramu, orang Israel. Pulanglah masing-masing ke rumahnya, sebab Akulah yang menyebabkan hal ini terjadi." Maka mereka mendengarkan firman TUHAN dan pergilah mereka pulang sesuai dengan firman TUHAN itu.
Nah, dari kebingungan saya itulah maka saya pun mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Saya mau mengajak kita untuk membuka ayat sebelumnya, yaitu 1 Raja-Raja 11:9-13:
"Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya, dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: "Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya. Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih."
Bukan lagi menjadi sebuah rahasia bahwa Salomo di akhir usianya jatuh dalam penyembahan berhala, karena istrinya yang banyak itu, yang tidak mengenal TUHAN. Dan TUHAN memandang bersalah Israel karena Salomo, pemimpinnya di akhir hidupnya bobrok. Kalau pemimpinnya saja sudah bobrok, gmana rakyatnya.

Saya jadi ingat obrolan dengan salah satu anggota jemaat di waktu yang lalu, beliau berkata: "Pak pendeta, tahu gak kenapa Israel begitu mengagungkan Daud dan bukan Salomo? Bendera Israel itu kan bintang Daud, bukan simbolnya Salomo. Ya karena ini, Salomo jatuh ke dalam penyembahan berhala sedangkan Daud tidak pernah terjatuh dalam penyembahan berhala."

Kembali ke perikop renungan kita hari ini, sekarang saya sudah tidak bingung lagi :)
sebab perikop yang kita baca hari ini adalah bagian kecil dari cara Allah mendidik umat-Nya waktu itu.

Bagian besarnya yang mana? Kelanjutan kisah para raja Israel dan Yehuda dalam kitab Raja-Raja inilah yang menjadi bagian besarnya. Israel bersatu di masa Salomo yang bobrok di akhir hidupnya. Israel dipecah oleh Tuhan dengan diawali oleh dua raja: Rehobeam di selatan yang juga bobrok (1 Raja-raja 14:22) dan Yerobeam di utara yang sama juga bobroknya (1 Raja 13:33-34).

Jadi pada waktu itu Tuhan sedang benar-benar berhadapan dengan kelakuan Israel yang sangar buruk. Dan Tuhan berjuang untuk mendidik dan memulihkan kondisi Israel.

Kalau bapak dan ibu punya waktu di rumah, silahkan lihat ke khas an dari kitab Raja-Raja: hampir semua raja di beri keterangan, "(1) raja a melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, atau (2) raja b melakukan apa yang baik di mata Tuhan". 

Kita bisa melihat bahwa Israel memang selalu jatuh bangun dalam hidup berbangsa dan hidup bersama dengan Tuhan.

Tapi yang paling penting untuk kita sadari hari ini adalah bahwa baik di masa yang baik atau bakan di masa yang paling buruk sekalipun, Tuhan ada dan berjuang untuk memulihkan dan mendidik Israel menjadi bangsa yang lebih baik.

Dan itulah yang Tuhan lakukan juga bagi kita, bagi bangsa kita. Enam puluh Tujuh tahun sudah kita merdeka, katanya. Dengan semua yang pernah terjadi di bumi Nusantara ini, baik yang baik (memang berapa banyak sih yang baik?) baik yang buruk sekalipun (sepertinya ini lebih banyak deh) ... Tuhan ada dan berjuang bersama-sama dengan kita untuk mencapai impian: Indonesia yang lebih baik.

Apakah hari ini, Indonesia yang sudah memasuki usia 'tidak muda lagi' itu sudah banyak belajar dari didikan Tuhan? Tuhan sudah mendidik kita dengan banyak hal. Korupsi, masalah dis-integrasi bangsa, perpecahan, ketidakadilan, dll .. dll .. dll .. 
Tuhan sudah mendidik kita melalui peristiwa tidak mengenakkan itu. 
Supaya apa? Supaya kita bisa belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. 

1 Raja-Raja 12:1-24 | Ketika Tuhan Mendidik Umat-Nya

Ketika Tuhan Mau Mendidik Umat-Nya ...
1 Raja-Raja 12:1-24
Saya bingung membaca firman Tuhan hari ini, benar benar bingung.
Awalnya saya, mungkin sama seperti yang dipikirkan oleh bapak ibu sewaktu membaca bagian Alkitab kita hari ini, ... saya berpikir bahwa apa yang dilakukan oleh Rehabeam yang "tidak mendengarkan permintaan rakyat" ... itu adalah sebuah kesalahan yang fatal. Sebab hal itulah yang menyebabkan perpecahan dalam kerajaan Israel setelah Salomo mangkat (1 Raja-Raja 11:43).
Kebingungan saya karena dua ayat ini:
Ayat 15:
Jadi raja tidak mendengarkan permintaan rakyat, sebab hal itu merupakan perubahan yang disebabkan TUHAN, supaya TUHAN menepati firman yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Ahia, orang Silo, kepada Yerobeam bin Nebat.
yang kemudian ditegaskan kembali dalam ayat 23-24:
"Katakanlah kepada Rehabeam, anak Salomo, raja Yehuda, dan kepada segenap kaum Yehuda dan Benyamin dan kepada selebihnya dari bangsa itu: Beginilah firman TUHAN: Janganlah kamu maju dan janganlah kamu berperang melawan saudara-saudaramu, orang Israel. Pulanglah masing-masing ke rumahnya, sebab Akulah yang menyebabkan hal ini terjadi." Maka mereka mendengarkan firman TUHAN dan pergilah mereka pulang sesuai dengan firman TUHAN itu.
Nah, dari kebingungan saya itulah maka saya pun mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Saya mau mengajak kita untuk membuka ayat sebelumnya, yaitu 1 Raja-Raja 11:9-13:
"Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya, dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: "Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya. Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih."
Bukan lagi menjadi sebuah rahasia bahwa Salomo di akhir usianya jatuh dalam penyembahan berhala, karena istrinya yang banyak itu, yang tidak mengenal TUHAN. Dan TUHAN memandang bersalah Israel karena Salomo, pemimpinnya di akhir hidupnya bobrok. Kalau pemimpinnya saja sudah bobrok, gmana rakyatnya.

Saya jadi ingat obrolan dengan salah satu anggota jemaat di waktu yang lalu, beliau berkata: "Pak pendeta, tahu gak kenapa Israel begitu mengagungkan Daud dan bukan Salomo? Bendera Israel itu kan bintang Daud, bukan simbolnya Salomo. Ya karena ini, Salomo jatuh ke dalam penyembahan berhala sedangkan Daud tidak pernah terjatuh dalam penyembahan berhala."

Kembali ke perikop renungan kita hari ini, sekarang saya sudah tidak bingung lagi :)
sebab perikop yang kita baca hari ini adalah bagian kecil dari cara Allah mendidik umat-Nya waktu itu.

Bagian besarnya yang mana? Kelanjutan kisah para raja Israel dan Yehuda dalam kitab Raja-Raja inilah yang menjadi bagian besarnya. Israel bersatu di masa Salomo yang bobrok di akhir hidupnya. Israel dipecah oleh Tuhan dengan diawali oleh dua raja: Rehobeam di selatan yang juga bobrok (1 Raja-raja 14:22) dan Yerobeam di utara yang sama juga bobroknya (1 Raja 13:33-34).

Jadi pada waktu itu Tuhan sedang benar-benar berhadapan dengan kelakuan Israel yang sangar buruk. Dan Tuhan berjuang untuk mendidik dan memulihkan kondisi Israel.

Kalau bapak dan ibu punya waktu di rumah, silahkan lihat ke khas an dari kitab Raja-Raja: hampir semua raja di beri keterangan, "(1) raja a melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, atau (2) raja b melakukan apa yang baik di mata Tuhan". 

Kita bisa melihat bahwa Israel memang selalu jatuh bangun dalam hidup berbangsa dan hidup bersama dengan Tuhan.

Tapi yang paling penting untuk kita sadari hari ini adalah bahwa baik di masa yang baik atau bakan di masa yang paling buruk sekalipun, Tuhan ada dan berjuang untuk memulihkan dan mendidik Israel menjadi bangsa yang lebih baik.

Dan itulah yang Tuhan lakukan juga bagi kita, bagi bangsa kita. Enam puluh Tujuh tahun sudah kita merdeka, katanya. Dengan semua yang pernah terjadi di bumi Nusantara ini, baik yang baik (memang berapa banyak sih yang baik?) baik yang buruk sekalipun (sepertinya ini lebih banyak deh) ... Tuhan ada dan berjuang bersama-sama dengan kita untuk mencapai impian: Indonesia yang lebih baik.

Apakah hari ini, Indonesia yang sudah memasuki usia 'tidak muda lagi' itu sudah banyak belajar dari didikan Tuhan? Tuhan sudah mendidik kita dengan banyak hal. Korupsi, masalah dis-integrasi bangsa, perpecahan, ketidakadilan, dll .. dll .. dll .. 
Tuhan sudah mendidik kita melalui peristiwa tidak mengenakkan itu. 
Supaya apa? Supaya kita bisa belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. 

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL