Pengkhotbah 5:1-16 | Lidah Tak Bertulang - Pdt. Gerry Atje
tutup mulut
Lidah Tak Bertulang
Pengkhotbah 5:1-16

Ada cerita tentang sebuah kerajaan yang mempunyai seorang koki. Koki ini terkenal sekali karena selain masakannya itu mantab. Suatu hari raja memanggil koki tersebut untuk memintanya untuk memasak yang spesial, "Koki coba kamu masak buat aku besok, buatkan aku masakan yang paling lezat di dunia ini".

Koki itu lalu pergi sambil mikir, "Mau masak apaan nih? Makanan yang paling lezat sedunia? Kalau nanti gak lezat kan bisa berabe!" Akhirnya ia pun memasak sejenis makanan. Sesudah siap saji, ia membawa masakannya itu ke hadapan raja, "Ini tuanku raja, masakannya sudah siap".

"Ehmm ... masak apa kamu koki?" tanya raja. "Saya masak masakan lidah tuanku raja" jawab koki. Rajanya pun bingung, "Kamu kan saya suruh membuat masakan yang paling enak di dunia ini, kok malah masak makanan beginian sih???"

Lalu koki pun menjawab, "Tuanku raja, saya masak makanan lidah karena dari lidah, kita dapat mengeluarkan kata-kata pujian, sanjungan, kata-kata yang indah merdu dan menghibur. Jadi, bukankah lidah adalah masakan yang paling lezat sedunia."

Cerdik juga nih si koki, pikir raja. "Okelah, masuk akal juga alasan kamu,. Akan tetapi sekarang aku mau minta kamu sekali lagi untuk membuatkan satu masakan yang paling gak enak sedunia!!"
"Aduh, raja ini minta nya yang aneh-aneh aja!" dalam hati koki.

Keesokan harinya, koki itu datang kembali menghadap raja sambil membawa masakan yang paling gak enak sedunia. "Sekarang kamu bawa masakan apa koki? Masakan yang paling gak enak sedunia ya." Tanya raja.

"Saya bawa masakan lidah (lagi) tuanku raja."
Raja bingung, "Hey koki, bukankah kau kemarin bilang kalau lidah adalah makanan paling enak sedunia? Kenapa sekarang kau bilang lidah adalah makanan yang paling gak enak seduniaa!!??"

Koki menjawab, "Tuanku raja, bukankah dengan lidah juga kita bisa mengeluarkan kata-kata pedas, kotor, kasa, jelek dan hinaan dll. Makanya saya bawakan lagi masakan lidah ini sekarang. Karena lidah juga adalah bahan dasar untuk bisa membuat masakan yang lezat dan sekaligus juga bisa digunakan untuk bahan dasar makanan yang paling gak enak sedunia."

Dari cerita itu dapatlah kita melihat betapa hebatnya fungis dan peran lidah kita in, dari ucapan yang keluar dari mulut kita. Dengan lidah, di satu sisi kita bisa menggunakannya secara baik, positif, menguatkan dan penuh cinta kasih. Namun sayangnya, dengan lidah yang sama juga kita bisa melakukan sesuatu yang sama sekali berkebalikan dengan tadi: suasana tidak damai, saling bermusuhan, perkataan kasar dll, sesuatu yang tidak berkenan dihadapan Allah.

Hati-hati, lidah memang tak bertulang, jangan sampai ketika kita mau menggunakan lidah kita ini, hal itu justru hanya membuat Allah marah pada kita. Atau dalam bahasa Pengkhotbah (5a), "Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa!"

Jika kita melihat keseluruhan kitab Pengkhotbah ini, maka ada sesuatu yang menarik dari kitab ini. Apa itu? Mari kita lihat bersama ... Pengkhotbah seakan-akan memandang seluruh aspek dalam kehidupan kita itu sia-sia belaka. Pengkhotbah sekana menantang kita dengan pertanyaan, "Mau ngomong apa sih kita tentang kehidupan ini? tentang kerja? tentang cari hikmat-pengetahuan? tentang kekayaan? tentang perikop kita hari ini: perkataan? Semua sia-sia, percuma!

Akan tetapi, Pengkhotbah juga mengatakan (dalam kalimatnya yang terakhir), "Takutlah akan Allah". Jadi kembali ke tantangan barusan, "Mau ngomong apa sih kita ini tentang berkata-kata? Semuanya sia-sia bila kita tidak menunjukkan sikap yang takut akan Allah.

Yang menarik lagi dari pembacaan Alkitab kita hari ini adalah ketika pengkhotbah memiliki ukuran - standar bagi kita sebelum kita berkata-kata, sekaligus kalau kita mau menunjukkan sikap "takut akan Allah dalam berkata-kata itu.

Pengkhotbah katakan,
"Janganlah terburu-buru dengan mulutmu - jangan terburu-buru dalam mengucapkan sesuatu".

Nah, kalau kita mau jujur mah sebenarnya disinilah letak permasalahan kita bersama. Kita itu seringkali terburu-buru dalam mengucapkan sesuatu, bener gak? Coba sekarang ... biasanya mana yang akan kita lakukan duluan: Berpikir dulu atau Berkata-kata dulu? Seringkali kita ini kan berkata-kata duluan baru kemudian berpikir tentang akibat dari perkataan itu. - kan sering tuh orang bilang: "Makanya, kalau ngomong tuh dipikir dulu!"

Itu semua mau menunjukkan betaa seringnya seseorang terburu-buru dalam mengucapkan sesuatu. Banyak orang lebih mudah berkata-kata lebih dulu baru mikir, ketimbang mikir dulu baru berkata-kata. Ceplas-ceploslah kata orang mah.

Mengapa kita perlu berpikir dulu sebelum kita mengucapkan kata-kata? Sebab ... sekali saja kita mengeluarkan kata-kata untuk orang lain, kata-kata itu tidak bisa kita tarik lagi bukan? Iya kalau kata-kata itu adalah ucapan yang positif, membangun hidup orang lain ... mungkin gak ada masalah. Bagus malahan. Tapi .... kalau kata-kata yang keluar dari mulut itu justru yang menyakiti hati dan perasaan saudara kita yang lain, gmana? Biar dibilang kita ini akhirnya udah minta maaf sekalipun ... dan dimaafkan ... kalau kata-kata itu sudah sedemikian rupa membuat hari dia sakit, pasti sakitnya itu membekas dihatinya.

Ada orang yang pernah bilang bahwa kata-kata kita itu kalau tidak digunakan secara hati-hati itu ibaratnya seperti paku yang ditancap ke sebatang pohon. Pas pakunya mau dicabut, pohonnya masih sakit ... luka ... bolong ... karena paku yang ditancap tadi itu.

Tantangan firman Tuhan saat ini adalah, mampukah kita dalam hidup ini menggunakan lidah dan mulut kita dengan hati-hati? Belajar untuk tidak tergesa-gesa dalam berucap. Belajar untuk berpikir sebelum berkata. Sebab slaah sedikit saja perkataan yang kita ucapkan, hal itu bisa memunculkan berbegai persepsi dan dampak yang akan ditafsirkan oleh orang yang mendengarnya.

Pengkhotbah 5:1-16 | Lidah Tak Bertulang

tutup mulut
Lidah Tak Bertulang
Pengkhotbah 5:1-16

Ada cerita tentang sebuah kerajaan yang mempunyai seorang koki. Koki ini terkenal sekali karena selain masakannya itu mantab. Suatu hari raja memanggil koki tersebut untuk memintanya untuk memasak yang spesial, "Koki coba kamu masak buat aku besok, buatkan aku masakan yang paling lezat di dunia ini".

Koki itu lalu pergi sambil mikir, "Mau masak apaan nih? Makanan yang paling lezat sedunia? Kalau nanti gak lezat kan bisa berabe!" Akhirnya ia pun memasak sejenis makanan. Sesudah siap saji, ia membawa masakannya itu ke hadapan raja, "Ini tuanku raja, masakannya sudah siap".

"Ehmm ... masak apa kamu koki?" tanya raja. "Saya masak masakan lidah tuanku raja" jawab koki. Rajanya pun bingung, "Kamu kan saya suruh membuat masakan yang paling enak di dunia ini, kok malah masak makanan beginian sih???"

Lalu koki pun menjawab, "Tuanku raja, saya masak makanan lidah karena dari lidah, kita dapat mengeluarkan kata-kata pujian, sanjungan, kata-kata yang indah merdu dan menghibur. Jadi, bukankah lidah adalah masakan yang paling lezat sedunia."

Cerdik juga nih si koki, pikir raja. "Okelah, masuk akal juga alasan kamu,. Akan tetapi sekarang aku mau minta kamu sekali lagi untuk membuatkan satu masakan yang paling gak enak sedunia!!"
"Aduh, raja ini minta nya yang aneh-aneh aja!" dalam hati koki.

Keesokan harinya, koki itu datang kembali menghadap raja sambil membawa masakan yang paling gak enak sedunia. "Sekarang kamu bawa masakan apa koki? Masakan yang paling gak enak sedunia ya." Tanya raja.

"Saya bawa masakan lidah (lagi) tuanku raja."
Raja bingung, "Hey koki, bukankah kau kemarin bilang kalau lidah adalah makanan paling enak sedunia? Kenapa sekarang kau bilang lidah adalah makanan yang paling gak enak seduniaa!!??"

Koki menjawab, "Tuanku raja, bukankah dengan lidah juga kita bisa mengeluarkan kata-kata pedas, kotor, kasa, jelek dan hinaan dll. Makanya saya bawakan lagi masakan lidah ini sekarang. Karena lidah juga adalah bahan dasar untuk bisa membuat masakan yang lezat dan sekaligus juga bisa digunakan untuk bahan dasar makanan yang paling gak enak sedunia."

Dari cerita itu dapatlah kita melihat betapa hebatnya fungis dan peran lidah kita in, dari ucapan yang keluar dari mulut kita. Dengan lidah, di satu sisi kita bisa menggunakannya secara baik, positif, menguatkan dan penuh cinta kasih. Namun sayangnya, dengan lidah yang sama juga kita bisa melakukan sesuatu yang sama sekali berkebalikan dengan tadi: suasana tidak damai, saling bermusuhan, perkataan kasar dll, sesuatu yang tidak berkenan dihadapan Allah.

Hati-hati, lidah memang tak bertulang, jangan sampai ketika kita mau menggunakan lidah kita ini, hal itu justru hanya membuat Allah marah pada kita. Atau dalam bahasa Pengkhotbah (5a), "Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa!"

Jika kita melihat keseluruhan kitab Pengkhotbah ini, maka ada sesuatu yang menarik dari kitab ini. Apa itu? Mari kita lihat bersama ... Pengkhotbah seakan-akan memandang seluruh aspek dalam kehidupan kita itu sia-sia belaka. Pengkhotbah sekana menantang kita dengan pertanyaan, "Mau ngomong apa sih kita tentang kehidupan ini? tentang kerja? tentang cari hikmat-pengetahuan? tentang kekayaan? tentang perikop kita hari ini: perkataan? Semua sia-sia, percuma!

Akan tetapi, Pengkhotbah juga mengatakan (dalam kalimatnya yang terakhir), "Takutlah akan Allah". Jadi kembali ke tantangan barusan, "Mau ngomong apa sih kita ini tentang berkata-kata? Semuanya sia-sia bila kita tidak menunjukkan sikap yang takut akan Allah.

Yang menarik lagi dari pembacaan Alkitab kita hari ini adalah ketika pengkhotbah memiliki ukuran - standar bagi kita sebelum kita berkata-kata, sekaligus kalau kita mau menunjukkan sikap "takut akan Allah dalam berkata-kata itu.

Pengkhotbah katakan,
"Janganlah terburu-buru dengan mulutmu - jangan terburu-buru dalam mengucapkan sesuatu".

Nah, kalau kita mau jujur mah sebenarnya disinilah letak permasalahan kita bersama. Kita itu seringkali terburu-buru dalam mengucapkan sesuatu, bener gak? Coba sekarang ... biasanya mana yang akan kita lakukan duluan: Berpikir dulu atau Berkata-kata dulu? Seringkali kita ini kan berkata-kata duluan baru kemudian berpikir tentang akibat dari perkataan itu. - kan sering tuh orang bilang: "Makanya, kalau ngomong tuh dipikir dulu!"

Itu semua mau menunjukkan betaa seringnya seseorang terburu-buru dalam mengucapkan sesuatu. Banyak orang lebih mudah berkata-kata lebih dulu baru mikir, ketimbang mikir dulu baru berkata-kata. Ceplas-ceploslah kata orang mah.

Mengapa kita perlu berpikir dulu sebelum kita mengucapkan kata-kata? Sebab ... sekali saja kita mengeluarkan kata-kata untuk orang lain, kata-kata itu tidak bisa kita tarik lagi bukan? Iya kalau kata-kata itu adalah ucapan yang positif, membangun hidup orang lain ... mungkin gak ada masalah. Bagus malahan. Tapi .... kalau kata-kata yang keluar dari mulut itu justru yang menyakiti hati dan perasaan saudara kita yang lain, gmana? Biar dibilang kita ini akhirnya udah minta maaf sekalipun ... dan dimaafkan ... kalau kata-kata itu sudah sedemikian rupa membuat hari dia sakit, pasti sakitnya itu membekas dihatinya.

Ada orang yang pernah bilang bahwa kata-kata kita itu kalau tidak digunakan secara hati-hati itu ibaratnya seperti paku yang ditancap ke sebatang pohon. Pas pakunya mau dicabut, pohonnya masih sakit ... luka ... bolong ... karena paku yang ditancap tadi itu.

Tantangan firman Tuhan saat ini adalah, mampukah kita dalam hidup ini menggunakan lidah dan mulut kita dengan hati-hati? Belajar untuk tidak tergesa-gesa dalam berucap. Belajar untuk berpikir sebelum berkata. Sebab slaah sedikit saja perkataan yang kita ucapkan, hal itu bisa memunculkan berbegai persepsi dan dampak yang akan ditafsirkan oleh orang yang mendengarnya.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


TERIMA RENUNGAN MELALUI EMAIL