Pekan Keluarga HUT ke-7 GKP Galilea Tanjung Priok - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

PEKAN KELUARGA
Dalam Rangka HUT Ke-7, 
GKP GALILEA TANJUNG PRIOK
28 Juni – 5 Juli 2012




LEBIH DARI SEKEDAR BAIK
Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik
(Kejadian 1:31a)

Masihkah teringat oleh kita kapan kali pertama kita membuat sebuah karya? Entah sebuah gambar pemandangan alam di buku gambar A4, atau mungkin pesawat terbang lipat dari kertas di waktu kita masih kecil?

Masih ingatkah apa perasaan kita ketika kita selesai membuat karya itu? Senang, bangga, atau kita jadi kagum: "wuih ... keren juga nih!" Atau mungkin seperti yang dialami oleh anak kecil ini ...

Ada seorang anak yang membawa pulang hasil karya gambarnya di sekolah itu dengan muka muram. Ketika sampai di rumah Papa bertanya pada anaknya itu: "Kenapa kamu cemberut aja pulang sekolah, nak?" Lalu anak pun menunjukkan hasil gambarnya di sekolah tadi kepada Papanya. Tertulis di buku gambar A4 miliknya; Nilai: 70.

Papa kemudian tersenyum lalu berkata kepada anaknya: "Ah, masak gambar sebagus ini dikasih nilai cuma 70 sama gurumu, nak? Sini ... Papa saja yang kasih nilai: 100!" Si anak yang dari tadi bermuka muram, setelah mendengar Papa nya berkata seperti itu, langsung berkata: "Beneran Pah? Gambarku bagus?" Papanya mengangguk sambil tersenyum. "Yeahhhh!! Gambarku baguss ... Nilainya 100 dari Papaku!" Dia melompak kegirangan.

Di dalam nas Alkitab kita hari ini, Tuhan pun sudah menunjukkan karya-Nya bagi kita. Tuhan telah membuat alam semesta dan segala isinya, sungguh suatu Mahakarya yang Agung dari Tuhan.

Mau tahu nilai yang diberikan Tuhan kepada karya Agung-Nya itu? Hanya dinilai "B", baik? Lebih dari sekedar baik! Sungguh amat baik! Setiap kita diberi nilai 100 oleh-Nya.

Sama halnya seperti anak kecil yang murung karena penilaian yang diberikan kepadanya, adakalanya kita pun menjadi murung atas penilaian "dunia" pada diri kita dan kehidupan kita hari ini.

Jangan bersedih. Bertanyalah pada Dia, Yang Memiliki Hidup kita itu. Dia akan berbisik kepada kita: "Engkau adalah milik-Ku, engkau sungguh teramat baik bagi-Ku."Kita semua menurut Tuhan, memang "Lebih dari sekedar baik."

Pokok Diskusi
Apa yang bisa kita lakukan sebagai sebuah keluarga untuk menyampaikan kabar baik dari Tuhan itu, bahwa memang "Engkau lebih dari sekedar baik, engkau sungguh teramat baik bagi Tuhan."



WASPADALAH! WASPADALAH!
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, 
tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, 
sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: 
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. 
(Roma 12:2)


Bayangkanlah apa yang akan kita lakukan bila suatu hari nanti, sewaktu kita dalam perjalanan, kita menemukan sebuah dompet. Setelah kita buka, isinya ternyata uang tunai sebesar Rp. 1.000.000,-

Hmmmm .... Dikembalikan langsung ke pemiliknya? Dibawa ke kantor polisi biar pak polisi yang memproses pengembalian dompet itu? Atau .... "ah gak ada yang liat juga kok, buatku sajalah dompet beserta isinya ini."

Bila di hari kemarin kita sudah berbicara bahwa adakalanya kita menjadi bersedih dan Tuhanlah yang menjadi Sumber Penghiburan bagi kita dengan Firman-Nya, maka hari ini kita pun bisa melihat bahwa Tuhan ternyata bisa juga menjadi bersedih hati ketika melihat kita mengambil langkah keputusan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Ada begitu banyak penghuni dunia ini yang makin hari bukannya makin dengat dengan kehendak Tuhan, malah makin keluar jalur dari apa yang baik, yang berkenan dihadapan Tuhan. Korupsi, pertikaian dan kawan-kawannya semakin bertambah dan makin menggusur kejujuran, kasih sayang dan keluarganya itu.

Bila kita saja sedih melihat realitas hari ini yang tidak berkesesuaian dengan kehendak Tuhan, apalagi Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatunya itu teramat baik adanya.

Waspadalah!

Ada begitu banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita tergoda dan akhirnya menjadikan hati Tuhan terluka karena itu.

Jadilah pribadi yang terus-menerus berjuang menuju arah yang lebih baik lagi. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin yang sudah berlalu.


Pokok Diskusi:

Apa yang bisa kita lakukan dalam kehidupan keluarga kita (di rumah, di jemaat, di masyarakat), sehingga ketika Tuhan melihat kehidupan kita, Dia tersenyum dan bersukacita karena melihat kehidupan kita itu?



MARAH
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu 
(Efesus 4:26)



Menjadi marah itu mudah.

Ada begitu banyak hal, dari yang paling besar atau bahkan soalan yang paling sepele pun kalau kita mau mencari alasan untuk marah, ya kita pasti bisa marah karenanya.

Yups, marah itu memang mudah sekali kita melakukannya. Tapi yang paling sulit adalah marah dan tidak berbuat dosa. Seorang filsuf, Aristoteles, pernah berkata begini:

"Setiap orang bisa marah, dan itu mudah. Akan tetapi, marah pada orang yang benar, dalam waktu yang benar, dalam tujuan yang benar dan dengan cara yang benar adalah tidak mudah dan tidak semua orang bisa melakukannya."

Inilah tantangan dalam kehidupan keseharian kita. Kita boleh saja marah, tak ada yang melarang kita marah. Akan tetapi di dalam kemarahan kita itu, janganlah kita berbuat dosa, kata Firman Tuhan.

Kapan kali terakhir kita marah?

Ah, menjawab pertanyaan itu mah tidak sulit. Tetapi menjawab pertanyaan: "Kapan kal terakhir kita marah dan tidak berbuat dosa?" Itu yang tidak mudah kita temukan.

Dalam nas Alkitab kita hari ini, ada satu ciri yang begitu menggambarkan "marah dan tidak berbuat dosa". Firman Tuhan berkata: "Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu."

Kemarahan yang tiada kunjung usai.

Kemarahan yang dipendam.

Bak api di dalam sekam, tampaknya sudah tak ada nyala apinya, namun ketika angin berhembus sedikit ... api "kemarahan" itu muncul kembali dan siap melahap apa saja yang ada di situ.

Kita perlu menemukan alat pemadam untuk apa yang tersembunyi di dalam sekam itu. Sudahkah kita menemukan alata pemadam api kemarahan yang ada dalam sekam itu?


Pokok Diskusi:

Menurut bapak dan ibu, apa saja yang bis menjadi "alat pemadam" api "kemarahan" kita itu? Supaya Firman: "Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu," bisa kita aminkan.



MENUAI
Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, 
akan menuai dengan bersorak-sorai. 
(Mazmur 126:5)



Hanya senyuman lebar yang terpancar dari wajah pak petani ketika dia melihat hasil tuaian yang selama ini sudah dia perjuangkan dan pertahankan di sawahnya. Padahal, proses menuai itu bukanlah waktu yang sekejap mata.

Di mulai dari mempersiapkan sawah mereka, membajak - menggemburkan tanah. Kemudian menaburi lahan dengan bibit yang telah mereka beli. Mereka merawat bibit padi itu: di beri pupuk. Ketika bibit itu sudah mulai bertumbuh menjadi padi, tak lupa mereka memberi pestisida (pembasmi hama) secara berkala, dan setiap hari mereka menjaga tanaman mereka di sawah.

Dan bukan seminggu dua minggu saja mereka melakukan hal itu. Berbulan-bulan lamanya, pagi-siang-malam mereka berjuang bagaimana supaya padi bisa bertahan dari serangan hama dan bertumbuh subur hingga matang sebelum menuai hasil panen.

Waktu yang diperlukan hingga tiba masa menuai memanglah tidak sebentar. Ada perjuangan dan air mata di sana. Pemazmur menggambarkan perjuangan itu begini: hingga "mencucurkan air mata" untuk sampai pada masa "menuai dengan sorak sorai".

Di dalam hidup berkeluarga, kitapun mirip dengan para petani yang berjuang untuk menuai. Kita semua berjuang untuk menuai: "Indahnya hidup berkeluarga". Ayah, Ibu dan Anak adalah para petani yang berjuang untuk menuai keindahan dan kedamaian hidup di satu "sawah" yang bernama keluarga.

Teruslah berjuang di sawah kita. Bahkan dengan cucuran air mata sekalipun, sebab bila waktu tiba untuk kita menuai, kita akan menuai dengan sorak sorai.


Pokok Diskusi:

Apa yang bisa kita lakukan agar sawah yang bernama keluarga itu pada akhirnya bisa menuai keindahan dan kedamaian dalam keseharian hidup kita? (gunakanlah istilah-istilah khas pertanian untuk menggambarkan jawabannya, misal: "Aku rindu untuk selalu menaburkan cinta kasih dalam keseharian kehidupan di keluargaku")



KENAL
Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; 
Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, 
seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi. 
(Hosea 6:3)


Mengenali adalah salah satu cara paling ampuh bagi kita untuk bisa memulai mengasihi. Dalam jargon yang sudah acapkali kita dengar dikatakan, "Tak kenal maka tak sayang."

Saking melekatnya jargon "tak kenal maka tak sayang", kita bisa menemukan games di acara televisi ataupun yang lainnya, yang menguji seberapa sayang dia pada seseorang, misalnya, dengan cara mengetahui seberapa dalam kenalnya dia pada orang itu.Ditanyakanlah: "Apa makanan kesukaannya?", "Hobinya apa?", atau "Film yang disukainya itu apa?" dan banyak hal yang bisa ditanyakan dalam games seperti itu untuk "menguji" seberapa kenal dia pada seseorang yang katanya dia sayangi itu.

Seorang istri yang mengenal suaminya itu gak suka minum kopi, tak akan pernah menghidangkan kopi setiap pagi di meja makan.

Seorang ayah yang mengenal anaknya itu alergi makanan laut, tidak akan pernah mengajak makan keluarganya di rumah makan seafood.

Kenapa?

Karena mereka sayang.

Dalam hubungan kita dengan Tuhan, rasa sayang kita itu kadangkala di uji ketika "masa-masa gelap" dan "tandus" hadir dalam kehidupan kita. Berhadapan dengan situasi inilah, Firman Tuhan mengajak kita hari ini untuk terus menerus berusaha mengenal Dia."Ia pasti muncul seperti fajar, (yang mengusir kegelapan malam)"

"Ia akan datang kepada kita seperti hujan (yang membasahi tandusnya tanah kita)"

Berlambat-lambatlah dalam mengambil kesimpulan buruk atas peristiwa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita, apapun itu. Bersegeralah untuk terus menerus berusaha untuk semakin bersungguh-sungguh mengenal Tuhan.Tuhan itu baik.


Pokok Diskusi:

Bagaimana menurut bapak dan ibu, cara kita supaya kita bisa semakin mengenal Tuhan dengan sungguh, sehingga kita bisa tetap mengasihi Dia dalam situasi apapun dalam hidup kita?



SAKSI
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, 
dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. 
(Kisah Para Rasul 1:8)


Satu hal yang paling di "haram"kan dalam sebuah persidangan ketika seorang datang sebagai saksi adalah ungkapan: "katanya". Tidak mungkin seseorang bisa menjadi saksi dengan bermodalkan kata, "katanya." Saksi adalah mereka yang melihat sendiri atau mendengar sendiri langsung dari sumber pertamanya. Itulah syarat seorang saksi.

Bila mau menilik tugas dari seorang saksi, sebenarnya jika sang saksi itu bukan bermodalkan ungkapan: "katanya" ... maka sebenarnya bersaksi itu tidak lah sulit. Kenapa? Sebab yang disaksikan adalah pengungkapan atas apa yang dia benar-benar ketahui tentang hal yang dia saksikan.

Ketika Tuhan berkata: "Kamu akan menjadi saksi-Ku" kepada sekumpulan kecil orang percaya yang hadir kala itu untuk memberitakan Kabar Baik dari-Nya, yang bikin rumit di masa kemudian adalah bukan kesaksian mereka atas apa yang sudah mereka lihat sendiri dan dengar sendiri dari Tuhan. Bukan itu masalahnya.Yang menjadi masalah adalah, ketika orang lain meragu akan kebenaran Kabar Baik yang disampaikan oleh para saksi.

Itulah sebabnya Tuhan pula mengingatkan kepada kita, bahwa: "kamu akan menerima kuasa". Kuasa untuk selalu memberitakan kesaksian akan Kebenaran Kabar Baik yang dari Tuhan itu sendiri.Dalam keseharian kehidupan kita, kesaksian kita akan selalu diuji oleh seorang "jaksa penuntut" yang benrama "keraguan".Keluarga hidup indah di dalam Tuhan. Apakah memang benar demikian Tuhan:

"Apakah keluargaku akan Engkau pulihkan dari situasi seperti sekarang ini?"

"Apakah memang benar aku bisa mendapatkan pekerjaan di dunia yang sudah serba sulit ini Tuhan?"

"Apakah memang benar ..... "

Kuasa sudah diberikan kepada kita untuk mengalahkan sang "jaksa penuntut" yang bernama "keraguan". Tetaplah menjadi saksi bagi-Nya.


Pokok Diskusi:

Apa yang bisa kita saksikan tentang karya yang telah Tuhan nyatakan dalam kehidupan keluarga, jemaat dan masyarakat di sekitar kita?



SELALU
Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. 
Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; 
Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. 
(Yesaya 46:4)


Besok adalah hari istimewa bagi kita sebagai jemaat Tuhan di GKP Galilea Tanjung Priok. Bila mau diibaratkan dalam perkembangan usia manusia, kita ini sedang semangat-semangatnya belajar ... sebab kita ini baru saja naik kelas 2 SD. Besok, jemaat Tuhan di GKP Galilea Tanjung Priok akan genap berusia 7 tahun.

Mungkin kita bertanya-tanya, bila usia jemaat Tuhan di GKP Galilea Tanjung Priok baru 7 tahun, mengapa nas Alkitab yang kita baca hari ini menyebut gambaran di masa tua: ”sampai masa tuamu” dan ”sampai masa putih rambutmu”?

Sebab kalimat pertama yang berkata: ” Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu,” itulah jaminan dari Tuhan untuk kita bahwa Dia akan selalu memperhatikan dan memedulikan kita sebagai jemaat-Nya di GKP Galilea Tanjung Priok.

Dan kalimat yang kedua inilah yang menjadi gambaran bagi jemaat Tuhan yang genap berusia 7 tahun di Tanjung Priok: ”Aku telah melakukannya ...”
Sampai hari ini kita sedang melihat bagaimana tindakan tangan Tuhan yang melakukan sesuatu untuk kehidupan jemaat-Nya di Priok. Mari kita memerhatikan empat kata kerja aktif yang Tuhan selalu lakukan untuk kita dalam teks Alkitab kita hari ini:

Dia menggendong; Dia menanggung;

Dia memikul; Dia menyelamatkan.

Bukankah itu semua yang sedang kita lihat dilakukan oleh Tuhan dalam kehidupan jemaat GKP Galilea Tanjung Priok. Betapa nyata sangat berkat-berkat Tuhan yang telah dan akan selalu Tuhan lakukan bagi kita di Priok.

Mari kita syukuri segala tindakan Tuhan yang senantiasa memberkati kehidupan kita. Selalu.


Pokok Diskusi:

Sebutkan salah satu contoh bentuk nyata tindakan kasih Tuhan yang sudah Tuhan lakukan bagi kita hari ini, sebagai keluarga dan jemaat Tuhan di Priok.



KASIH
dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. 
(Efesus 5:2)



Inilah hari sukacita yang Tuhan jadikan bagi jemaat-Nya di GKP Galilea Tanjung Priok. Tujuh tahun sudah Tuhan menyertai dan memberkati, selalu, kehidupan jemaat di Priok.

Bolehkah kita menyanyikan lagu selamat ulang tahun sekarang? Tentu saja boleh (mari kita nyanyikan lagu selamat ulang tahun).
Hari ulang tahun selalu dekat dengan beberapa hal: Lagu selamat ulang tahun, kue ulang tahun dan .... kado.

Lagu selamat ulang tahun sudah kita nyanyikan bersama tadi, kue ultah nanti kita tiup di tanggal 8 Juli 2012, saat perayaan HUT di Gereja ... tinggal kadonya nih. Apa yang bisa kita berikan bagi Tuhan yang telah menjagai dan memberkati jemaat-Nya itu hingga hari ini?

Di tahun ini kita bersama mau membawa kado bagi Tuhan yang isinya adalah ”kerinduan kita untuk terus memperjuangkan hidup di dalam kasih”. Hiduplah di dalam kasih, karena Tuhan telah lebih dulu menunjukkan kasih setia-Nya bagi kita.

Apa yang akan kita lakukan untuk sesuatu atau kepada seseorang yang kita kasihi? Kita akan menjaganya dan berusaha memberikan yang terbaik baginya bahkan bila perlu, kita rela berkorban baginya ... karena kita mengasihi dia.

Dalam nas Alkitab kita, itulah yang Tuhan lakukan bagi hidup kita. Dia telah menjaga kita dan memberikan yang terbaik bagi kita. Bahkan rela menyerahkan diri-Nya sebagai persembahan yang harum supaya kita bisa memperoleh kehidupan kekal, bukan kebinasaan.

Bagi Dia, kasih adalah sebuah pengorbanan.

Mari kita terus berjuang untuk memberikan sebuah kado bagi Tuhan dari kita: ”Aku mau hidup di dalam kasih”.


Pokok Diskusi:

Bacalah I Korintus 13:4-8a. Pilihlah tujuh bentuk kasih yang mau kita fokuskan berjuang dalam keseharian hidup kita sebagai kado syukur kita bagi Tuhan yang sudah mengasihi hidup kita.

Pekan Keluarga HUT ke-7 GKP Galilea Tanjung Priok

PEKAN KELUARGA
Dalam Rangka HUT Ke-7, 
GKP GALILEA TANJUNG PRIOK
28 Juni – 5 Juli 2012




LEBIH DARI SEKEDAR BAIK
Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik
(Kejadian 1:31a)

Masihkah teringat oleh kita kapan kali pertama kita membuat sebuah karya? Entah sebuah gambar pemandangan alam di buku gambar A4, atau mungkin pesawat terbang lipat dari kertas di waktu kita masih kecil?

Masih ingatkah apa perasaan kita ketika kita selesai membuat karya itu? Senang, bangga, atau kita jadi kagum: "wuih ... keren juga nih!" Atau mungkin seperti yang dialami oleh anak kecil ini ...

Ada seorang anak yang membawa pulang hasil karya gambarnya di sekolah itu dengan muka muram. Ketika sampai di rumah Papa bertanya pada anaknya itu: "Kenapa kamu cemberut aja pulang sekolah, nak?" Lalu anak pun menunjukkan hasil gambarnya di sekolah tadi kepada Papanya. Tertulis di buku gambar A4 miliknya; Nilai: 70.

Papa kemudian tersenyum lalu berkata kepada anaknya: "Ah, masak gambar sebagus ini dikasih nilai cuma 70 sama gurumu, nak? Sini ... Papa saja yang kasih nilai: 100!" Si anak yang dari tadi bermuka muram, setelah mendengar Papa nya berkata seperti itu, langsung berkata: "Beneran Pah? Gambarku bagus?" Papanya mengangguk sambil tersenyum. "Yeahhhh!! Gambarku baguss ... Nilainya 100 dari Papaku!" Dia melompak kegirangan.

Di dalam nas Alkitab kita hari ini, Tuhan pun sudah menunjukkan karya-Nya bagi kita. Tuhan telah membuat alam semesta dan segala isinya, sungguh suatu Mahakarya yang Agung dari Tuhan.

Mau tahu nilai yang diberikan Tuhan kepada karya Agung-Nya itu? Hanya dinilai "B", baik? Lebih dari sekedar baik! Sungguh amat baik! Setiap kita diberi nilai 100 oleh-Nya.

Sama halnya seperti anak kecil yang murung karena penilaian yang diberikan kepadanya, adakalanya kita pun menjadi murung atas penilaian "dunia" pada diri kita dan kehidupan kita hari ini.

Jangan bersedih. Bertanyalah pada Dia, Yang Memiliki Hidup kita itu. Dia akan berbisik kepada kita: "Engkau adalah milik-Ku, engkau sungguh teramat baik bagi-Ku."Kita semua menurut Tuhan, memang "Lebih dari sekedar baik."

Pokok Diskusi
Apa yang bisa kita lakukan sebagai sebuah keluarga untuk menyampaikan kabar baik dari Tuhan itu, bahwa memang "Engkau lebih dari sekedar baik, engkau sungguh teramat baik bagi Tuhan."



WASPADALAH! WASPADALAH!
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, 
tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, 
sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: 
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. 
(Roma 12:2)


Bayangkanlah apa yang akan kita lakukan bila suatu hari nanti, sewaktu kita dalam perjalanan, kita menemukan sebuah dompet. Setelah kita buka, isinya ternyata uang tunai sebesar Rp. 1.000.000,-

Hmmmm .... Dikembalikan langsung ke pemiliknya? Dibawa ke kantor polisi biar pak polisi yang memproses pengembalian dompet itu? Atau .... "ah gak ada yang liat juga kok, buatku sajalah dompet beserta isinya ini."

Bila di hari kemarin kita sudah berbicara bahwa adakalanya kita menjadi bersedih dan Tuhanlah yang menjadi Sumber Penghiburan bagi kita dengan Firman-Nya, maka hari ini kita pun bisa melihat bahwa Tuhan ternyata bisa juga menjadi bersedih hati ketika melihat kita mengambil langkah keputusan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Ada begitu banyak penghuni dunia ini yang makin hari bukannya makin dengat dengan kehendak Tuhan, malah makin keluar jalur dari apa yang baik, yang berkenan dihadapan Tuhan. Korupsi, pertikaian dan kawan-kawannya semakin bertambah dan makin menggusur kejujuran, kasih sayang dan keluarganya itu.

Bila kita saja sedih melihat realitas hari ini yang tidak berkesesuaian dengan kehendak Tuhan, apalagi Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatunya itu teramat baik adanya.

Waspadalah!

Ada begitu banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita tergoda dan akhirnya menjadikan hati Tuhan terluka karena itu.

Jadilah pribadi yang terus-menerus berjuang menuju arah yang lebih baik lagi. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin yang sudah berlalu.


Pokok Diskusi:

Apa yang bisa kita lakukan dalam kehidupan keluarga kita (di rumah, di jemaat, di masyarakat), sehingga ketika Tuhan melihat kehidupan kita, Dia tersenyum dan bersukacita karena melihat kehidupan kita itu?



MARAH
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu 
(Efesus 4:26)



Menjadi marah itu mudah.

Ada begitu banyak hal, dari yang paling besar atau bahkan soalan yang paling sepele pun kalau kita mau mencari alasan untuk marah, ya kita pasti bisa marah karenanya.

Yups, marah itu memang mudah sekali kita melakukannya. Tapi yang paling sulit adalah marah dan tidak berbuat dosa. Seorang filsuf, Aristoteles, pernah berkata begini:

"Setiap orang bisa marah, dan itu mudah. Akan tetapi, marah pada orang yang benar, dalam waktu yang benar, dalam tujuan yang benar dan dengan cara yang benar adalah tidak mudah dan tidak semua orang bisa melakukannya."

Inilah tantangan dalam kehidupan keseharian kita. Kita boleh saja marah, tak ada yang melarang kita marah. Akan tetapi di dalam kemarahan kita itu, janganlah kita berbuat dosa, kata Firman Tuhan.

Kapan kali terakhir kita marah?

Ah, menjawab pertanyaan itu mah tidak sulit. Tetapi menjawab pertanyaan: "Kapan kal terakhir kita marah dan tidak berbuat dosa?" Itu yang tidak mudah kita temukan.

Dalam nas Alkitab kita hari ini, ada satu ciri yang begitu menggambarkan "marah dan tidak berbuat dosa". Firman Tuhan berkata: "Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu."

Kemarahan yang tiada kunjung usai.

Kemarahan yang dipendam.

Bak api di dalam sekam, tampaknya sudah tak ada nyala apinya, namun ketika angin berhembus sedikit ... api "kemarahan" itu muncul kembali dan siap melahap apa saja yang ada di situ.

Kita perlu menemukan alat pemadam untuk apa yang tersembunyi di dalam sekam itu. Sudahkah kita menemukan alata pemadam api kemarahan yang ada dalam sekam itu?


Pokok Diskusi:

Menurut bapak dan ibu, apa saja yang bis menjadi "alat pemadam" api "kemarahan" kita itu? Supaya Firman: "Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu," bisa kita aminkan.



MENUAI
Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, 
akan menuai dengan bersorak-sorai. 
(Mazmur 126:5)



Hanya senyuman lebar yang terpancar dari wajah pak petani ketika dia melihat hasil tuaian yang selama ini sudah dia perjuangkan dan pertahankan di sawahnya. Padahal, proses menuai itu bukanlah waktu yang sekejap mata.

Di mulai dari mempersiapkan sawah mereka, membajak - menggemburkan tanah. Kemudian menaburi lahan dengan bibit yang telah mereka beli. Mereka merawat bibit padi itu: di beri pupuk. Ketika bibit itu sudah mulai bertumbuh menjadi padi, tak lupa mereka memberi pestisida (pembasmi hama) secara berkala, dan setiap hari mereka menjaga tanaman mereka di sawah.

Dan bukan seminggu dua minggu saja mereka melakukan hal itu. Berbulan-bulan lamanya, pagi-siang-malam mereka berjuang bagaimana supaya padi bisa bertahan dari serangan hama dan bertumbuh subur hingga matang sebelum menuai hasil panen.

Waktu yang diperlukan hingga tiba masa menuai memanglah tidak sebentar. Ada perjuangan dan air mata di sana. Pemazmur menggambarkan perjuangan itu begini: hingga "mencucurkan air mata" untuk sampai pada masa "menuai dengan sorak sorai".

Di dalam hidup berkeluarga, kitapun mirip dengan para petani yang berjuang untuk menuai. Kita semua berjuang untuk menuai: "Indahnya hidup berkeluarga". Ayah, Ibu dan Anak adalah para petani yang berjuang untuk menuai keindahan dan kedamaian hidup di satu "sawah" yang bernama keluarga.

Teruslah berjuang di sawah kita. Bahkan dengan cucuran air mata sekalipun, sebab bila waktu tiba untuk kita menuai, kita akan menuai dengan sorak sorai.


Pokok Diskusi:

Apa yang bisa kita lakukan agar sawah yang bernama keluarga itu pada akhirnya bisa menuai keindahan dan kedamaian dalam keseharian hidup kita? (gunakanlah istilah-istilah khas pertanian untuk menggambarkan jawabannya, misal: "Aku rindu untuk selalu menaburkan cinta kasih dalam keseharian kehidupan di keluargaku")



KENAL
Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; 
Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, 
seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi. 
(Hosea 6:3)


Mengenali adalah salah satu cara paling ampuh bagi kita untuk bisa memulai mengasihi. Dalam jargon yang sudah acapkali kita dengar dikatakan, "Tak kenal maka tak sayang."

Saking melekatnya jargon "tak kenal maka tak sayang", kita bisa menemukan games di acara televisi ataupun yang lainnya, yang menguji seberapa sayang dia pada seseorang, misalnya, dengan cara mengetahui seberapa dalam kenalnya dia pada orang itu.Ditanyakanlah: "Apa makanan kesukaannya?", "Hobinya apa?", atau "Film yang disukainya itu apa?" dan banyak hal yang bisa ditanyakan dalam games seperti itu untuk "menguji" seberapa kenal dia pada seseorang yang katanya dia sayangi itu.

Seorang istri yang mengenal suaminya itu gak suka minum kopi, tak akan pernah menghidangkan kopi setiap pagi di meja makan.

Seorang ayah yang mengenal anaknya itu alergi makanan laut, tidak akan pernah mengajak makan keluarganya di rumah makan seafood.

Kenapa?

Karena mereka sayang.

Dalam hubungan kita dengan Tuhan, rasa sayang kita itu kadangkala di uji ketika "masa-masa gelap" dan "tandus" hadir dalam kehidupan kita. Berhadapan dengan situasi inilah, Firman Tuhan mengajak kita hari ini untuk terus menerus berusaha mengenal Dia."Ia pasti muncul seperti fajar, (yang mengusir kegelapan malam)"

"Ia akan datang kepada kita seperti hujan (yang membasahi tandusnya tanah kita)"

Berlambat-lambatlah dalam mengambil kesimpulan buruk atas peristiwa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita, apapun itu. Bersegeralah untuk terus menerus berusaha untuk semakin bersungguh-sungguh mengenal Tuhan.Tuhan itu baik.


Pokok Diskusi:

Bagaimana menurut bapak dan ibu, cara kita supaya kita bisa semakin mengenal Tuhan dengan sungguh, sehingga kita bisa tetap mengasihi Dia dalam situasi apapun dalam hidup kita?



SAKSI
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, 
dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. 
(Kisah Para Rasul 1:8)


Satu hal yang paling di "haram"kan dalam sebuah persidangan ketika seorang datang sebagai saksi adalah ungkapan: "katanya". Tidak mungkin seseorang bisa menjadi saksi dengan bermodalkan kata, "katanya." Saksi adalah mereka yang melihat sendiri atau mendengar sendiri langsung dari sumber pertamanya. Itulah syarat seorang saksi.

Bila mau menilik tugas dari seorang saksi, sebenarnya jika sang saksi itu bukan bermodalkan ungkapan: "katanya" ... maka sebenarnya bersaksi itu tidak lah sulit. Kenapa? Sebab yang disaksikan adalah pengungkapan atas apa yang dia benar-benar ketahui tentang hal yang dia saksikan.

Ketika Tuhan berkata: "Kamu akan menjadi saksi-Ku" kepada sekumpulan kecil orang percaya yang hadir kala itu untuk memberitakan Kabar Baik dari-Nya, yang bikin rumit di masa kemudian adalah bukan kesaksian mereka atas apa yang sudah mereka lihat sendiri dan dengar sendiri dari Tuhan. Bukan itu masalahnya.Yang menjadi masalah adalah, ketika orang lain meragu akan kebenaran Kabar Baik yang disampaikan oleh para saksi.

Itulah sebabnya Tuhan pula mengingatkan kepada kita, bahwa: "kamu akan menerima kuasa". Kuasa untuk selalu memberitakan kesaksian akan Kebenaran Kabar Baik yang dari Tuhan itu sendiri.Dalam keseharian kehidupan kita, kesaksian kita akan selalu diuji oleh seorang "jaksa penuntut" yang benrama "keraguan".Keluarga hidup indah di dalam Tuhan. Apakah memang benar demikian Tuhan:

"Apakah keluargaku akan Engkau pulihkan dari situasi seperti sekarang ini?"

"Apakah memang benar aku bisa mendapatkan pekerjaan di dunia yang sudah serba sulit ini Tuhan?"

"Apakah memang benar ..... "

Kuasa sudah diberikan kepada kita untuk mengalahkan sang "jaksa penuntut" yang bernama "keraguan". Tetaplah menjadi saksi bagi-Nya.


Pokok Diskusi:

Apa yang bisa kita saksikan tentang karya yang telah Tuhan nyatakan dalam kehidupan keluarga, jemaat dan masyarakat di sekitar kita?



SELALU
Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. 
Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; 
Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. 
(Yesaya 46:4)


Besok adalah hari istimewa bagi kita sebagai jemaat Tuhan di GKP Galilea Tanjung Priok. Bila mau diibaratkan dalam perkembangan usia manusia, kita ini sedang semangat-semangatnya belajar ... sebab kita ini baru saja naik kelas 2 SD. Besok, jemaat Tuhan di GKP Galilea Tanjung Priok akan genap berusia 7 tahun.

Mungkin kita bertanya-tanya, bila usia jemaat Tuhan di GKP Galilea Tanjung Priok baru 7 tahun, mengapa nas Alkitab yang kita baca hari ini menyebut gambaran di masa tua: ”sampai masa tuamu” dan ”sampai masa putih rambutmu”?

Sebab kalimat pertama yang berkata: ” Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu,” itulah jaminan dari Tuhan untuk kita bahwa Dia akan selalu memperhatikan dan memedulikan kita sebagai jemaat-Nya di GKP Galilea Tanjung Priok.

Dan kalimat yang kedua inilah yang menjadi gambaran bagi jemaat Tuhan yang genap berusia 7 tahun di Tanjung Priok: ”Aku telah melakukannya ...”
Sampai hari ini kita sedang melihat bagaimana tindakan tangan Tuhan yang melakukan sesuatu untuk kehidupan jemaat-Nya di Priok. Mari kita memerhatikan empat kata kerja aktif yang Tuhan selalu lakukan untuk kita dalam teks Alkitab kita hari ini:

Dia menggendong; Dia menanggung;

Dia memikul; Dia menyelamatkan.

Bukankah itu semua yang sedang kita lihat dilakukan oleh Tuhan dalam kehidupan jemaat GKP Galilea Tanjung Priok. Betapa nyata sangat berkat-berkat Tuhan yang telah dan akan selalu Tuhan lakukan bagi kita di Priok.

Mari kita syukuri segala tindakan Tuhan yang senantiasa memberkati kehidupan kita. Selalu.


Pokok Diskusi:

Sebutkan salah satu contoh bentuk nyata tindakan kasih Tuhan yang sudah Tuhan lakukan bagi kita hari ini, sebagai keluarga dan jemaat Tuhan di Priok.



KASIH
dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. 
(Efesus 5:2)



Inilah hari sukacita yang Tuhan jadikan bagi jemaat-Nya di GKP Galilea Tanjung Priok. Tujuh tahun sudah Tuhan menyertai dan memberkati, selalu, kehidupan jemaat di Priok.

Bolehkah kita menyanyikan lagu selamat ulang tahun sekarang? Tentu saja boleh (mari kita nyanyikan lagu selamat ulang tahun).
Hari ulang tahun selalu dekat dengan beberapa hal: Lagu selamat ulang tahun, kue ulang tahun dan .... kado.

Lagu selamat ulang tahun sudah kita nyanyikan bersama tadi, kue ultah nanti kita tiup di tanggal 8 Juli 2012, saat perayaan HUT di Gereja ... tinggal kadonya nih. Apa yang bisa kita berikan bagi Tuhan yang telah menjagai dan memberkati jemaat-Nya itu hingga hari ini?

Di tahun ini kita bersama mau membawa kado bagi Tuhan yang isinya adalah ”kerinduan kita untuk terus memperjuangkan hidup di dalam kasih”. Hiduplah di dalam kasih, karena Tuhan telah lebih dulu menunjukkan kasih setia-Nya bagi kita.

Apa yang akan kita lakukan untuk sesuatu atau kepada seseorang yang kita kasihi? Kita akan menjaganya dan berusaha memberikan yang terbaik baginya bahkan bila perlu, kita rela berkorban baginya ... karena kita mengasihi dia.

Dalam nas Alkitab kita, itulah yang Tuhan lakukan bagi hidup kita. Dia telah menjaga kita dan memberikan yang terbaik bagi kita. Bahkan rela menyerahkan diri-Nya sebagai persembahan yang harum supaya kita bisa memperoleh kehidupan kekal, bukan kebinasaan.

Bagi Dia, kasih adalah sebuah pengorbanan.

Mari kita terus berjuang untuk memberikan sebuah kado bagi Tuhan dari kita: ”Aku mau hidup di dalam kasih”.


Pokok Diskusi:

Bacalah I Korintus 13:4-8a. Pilihlah tujuh bentuk kasih yang mau kita fokuskan berjuang dalam keseharian hidup kita sebagai kado syukur kita bagi Tuhan yang sudah mengasihi hidup kita.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER