Inferiority Complex - Pdt. Gerry Atje

    Social Items


Sebuah surat kabat St. Louis memberikan judul salah satu tulisannya: “Inferiority Complex” yang disebabkan oleh Hidung Panjang mengakibatkan mahasiswa bunuh diri. Artikel ini melaporkan kasus bunuh dirnya seorang mahasiswa berusia 24 tahun dari Washington University, bernama Theodore Hofman. Ironisnya, artikel ini melaporkan bahwa mereka-mereka yang mengenalnya, menganggap Hofman adalah seorang mahasiswa yang popular. Berikut adalah tulisan dari permuda ini:
Kepada dunia:

Ketika aku masih kecil, anak-anak lainnya melecehkan dan memperlakukan aku dengan tidak baik sebab aku lebih lemah dan lebih buruk rupa daripada mereka. Aku peka, pemalu dan sering digoda karena wajahku dan hidungku yang panjang. Semakin mereka menyinggungku, semakin mereka menggodaku. Aku menjadi takut kepada orang-orang.

Aku tahu bahwa banyak di antara mereka yang membenciku karena hal-hal yang bikan menjadi tanggung jawabku – sifatku yang sentimental dan penampilanku. Aku tak dapat berbicara kepada siapapun. Kepercayaan diriku lenyap.

Seorang guruku mengeja namaku dengan dua huruf “F” padahal seharusnya satu, tetapi aku sedemikian terbelakangnya sehingga aku tak dapat mengoreksinya dan oleh karenanya aku malah ikut-ikutan mengeja namaku sendiri dengan dua huruf “F” selama sekolah. Semoga Allah mengampuni semuanya.

Aku takut kepada dunia tetapi aku tidak takut mati.

Maxwell Maltz, The New Psycho-Cybernetics, 76.

Inferiority Complex


Sebuah surat kabat St. Louis memberikan judul salah satu tulisannya: “Inferiority Complex” yang disebabkan oleh Hidung Panjang mengakibatkan mahasiswa bunuh diri. Artikel ini melaporkan kasus bunuh dirnya seorang mahasiswa berusia 24 tahun dari Washington University, bernama Theodore Hofman. Ironisnya, artikel ini melaporkan bahwa mereka-mereka yang mengenalnya, menganggap Hofman adalah seorang mahasiswa yang popular. Berikut adalah tulisan dari permuda ini:
Kepada dunia:

Ketika aku masih kecil, anak-anak lainnya melecehkan dan memperlakukan aku dengan tidak baik sebab aku lebih lemah dan lebih buruk rupa daripada mereka. Aku peka, pemalu dan sering digoda karena wajahku dan hidungku yang panjang. Semakin mereka menyinggungku, semakin mereka menggodaku. Aku menjadi takut kepada orang-orang.

Aku tahu bahwa banyak di antara mereka yang membenciku karena hal-hal yang bikan menjadi tanggung jawabku – sifatku yang sentimental dan penampilanku. Aku tak dapat berbicara kepada siapapun. Kepercayaan diriku lenyap.

Seorang guruku mengeja namaku dengan dua huruf “F” padahal seharusnya satu, tetapi aku sedemikian terbelakangnya sehingga aku tak dapat mengoreksinya dan oleh karenanya aku malah ikut-ikutan mengeja namaku sendiri dengan dua huruf “F” selama sekolah. Semoga Allah mengampuni semuanya.

Aku takut kepada dunia tetapi aku tidak takut mati.

Maxwell Maltz, The New Psycho-Cybernetics, 76.

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER