Yehezkiel 34:1-11 | Pribadi yang Peduli - Pdt. Gerry Atje

    Social Items

gembala
Pribadi yang Peduli
Yehezkiel 34:1-11

I. Pembukaan

Di sebuah desa pernah diadakan sebuah kontes “Menjadi Pribadi yang Peduli”. Dan yang keluar sebagai pemenang adalah seorang anak kecil. Seluruh penduduk desa pada waktu itu cukup terkejut dengan si anak yang menjadi pemenang ‘kontes’ itu, karena sama sekali semua tidak menyangka bahwa anak kecil itu keluar sebagai pemenang.

Lalu ada seseorang yang bertanya: “dek, dek … kok kamu bisa menang sih di kontes ‘kepedulian’ itu … memang apa yang sudah kamu lakukan?” Anak itu pun menjawab: “saya juga gak ngerti pak … hanya memang kalau ada seseorang yang bersedih, terutama kalau ada kakek atau nenek yang saya lihat dia sedang sendirian atau menangis … saya lalu datang dan duduk dekat mereka … kadang mereka malah memangku saya … dan mereka mulai menceritakan kesedihannya itu kepada saya … saya hanya mendengarkan dan membiarkan kakek atau nenek itu mengeluarkan uneg-unegnya di dalam hati mereka …

Sebenarnya menjadi pribadi yang peduli … tidaklah sesulit yang dibayangkan orang … sebab setiap kita punya kemampuan untuk peduli pada sesama kita … siapapun mereka. Akan tetapi, rasanya ada saja sesuatu yang membuat seseorang tidak bisa ‘memunculkan’ kepedulian dirinya itu kepada sesamanya yang membutuhkan.

II. Penjelasan Bahan

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita bertemu dengan bangsa Israel yang sedang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan berbangsa, berkeluarga atau bahkan pemahaman mereka sebagai bangsa yang dikasihi dan dipilih oleh Tuhan. Bagaimana tidak, bangsa Israel pada waktu itu jatuh dalam penjajahan dan kemudian dibuang ‘oleh Tuhan’ ke negeri asing (yang menjajah mereka).

Konflik dalam diri (batin) menjadi bagian yang tidak terelakkan melewati masa-masa seperti itu. Mereka berjuang untuk mencari dan menemukan “dimana letak kepedulian Tuhan (yang katanya mengasihi hidup mereka itu)” tepat ketika mereka melihat kehancuran menyelimuti kehidupan mereka. Sampai di titik itu saja bangsa Israel pasti mengalami kesulitan … ditambah lagi … apa yang kita baca sekarang! Para ‘gembala’ (pemimpin bangsa, pemimpin umat) ternyata ‘hanya peduli pada diri mereka sendiri’ … [bacalah ayat 2-4].

Membaca apa yang dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu tentu akan mengingatkan kita kepada satu negeri yang lain … negeri yang kaya akan sumber daya alamnya, negeri yang sebenarnya mampu menjadi salah satu negeri yang ‘hebat’ … akan tetapi … entah kenapa … kok sampai hari ini … negeri yang satu ini ‘gak maju-maju’ …

III. Penerapan Bahan

Apakah benar apa yang dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu: “para pemimpin bangsa nya hanya memikirkan kantong mereka sendiri, perut mereka sendiri, kesejahteraan mereka sendiri (ayat 10)” … juga sekarang sedang dialami oleh negeri yang satu ini???

Mungkin saja! Lihat saja bagaimana para pemimpin bangsa negeri itu yang ‘tega’ mengeluarkan anggaran ber-M M untuk ‘studi banding’ ke luar negeri yang nyata-nyatanya malah membuat malu bangsa kita (insiden komisi8@yahoo.com di Australia) … Lihat saja anggaran 9 M yang disiapkan untuk (pada akhirnya) membuat situs / web pemerintah yang mandiri yang dikritik oleh banyak orang: “kenapa harus semahal itu??? Yang 100 juta aja sudah canggih kok” … Belum lagi rencana membangun gedung yang baru itu … yang anggarannya jauh lebih besar lagi itu …

Okelah .. itu yang sedang terjadi di ‘negeri besar’ kita … tapi bagaimana kondisi ‘negeri kecil’ kita … keluarga kita, lingkungan masyarakat kita, jemaat kita … apakah hal yang sama atau tidak jauh berbeda juga sedang terjadi di ‘negeri kecil’ kita???

Hati-hati, ayat 10-11 adalah bentuk kemarahan Dia kepada mereka yang ‘hanya peduli pada diri mereka sendiri’ sekaligus bentuk pembelaan Tuhan kepada mereka yang ‘diacuhkan dan tidak dianggap penting oleh orang-orang yang lain’.

Pokok Diskusi
  1. Menurut pemahaman bapak dan ibu, di masa kini … siapakah figur para gembala itu?
  2. Apa yang dapat kita lakukan agar kita bisa menjadi pribadi yang peduli akan keberadaan orang-orang lain?
Sumber gambar: Pixabay

Yehezkiel 34:1-11 | Pribadi yang Peduli

gembala
Pribadi yang Peduli
Yehezkiel 34:1-11

I. Pembukaan

Di sebuah desa pernah diadakan sebuah kontes “Menjadi Pribadi yang Peduli”. Dan yang keluar sebagai pemenang adalah seorang anak kecil. Seluruh penduduk desa pada waktu itu cukup terkejut dengan si anak yang menjadi pemenang ‘kontes’ itu, karena sama sekali semua tidak menyangka bahwa anak kecil itu keluar sebagai pemenang.

Lalu ada seseorang yang bertanya: “dek, dek … kok kamu bisa menang sih di kontes ‘kepedulian’ itu … memang apa yang sudah kamu lakukan?” Anak itu pun menjawab: “saya juga gak ngerti pak … hanya memang kalau ada seseorang yang bersedih, terutama kalau ada kakek atau nenek yang saya lihat dia sedang sendirian atau menangis … saya lalu datang dan duduk dekat mereka … kadang mereka malah memangku saya … dan mereka mulai menceritakan kesedihannya itu kepada saya … saya hanya mendengarkan dan membiarkan kakek atau nenek itu mengeluarkan uneg-unegnya di dalam hati mereka …

Sebenarnya menjadi pribadi yang peduli … tidaklah sesulit yang dibayangkan orang … sebab setiap kita punya kemampuan untuk peduli pada sesama kita … siapapun mereka. Akan tetapi, rasanya ada saja sesuatu yang membuat seseorang tidak bisa ‘memunculkan’ kepedulian dirinya itu kepada sesamanya yang membutuhkan.

II. Penjelasan Bahan

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita bertemu dengan bangsa Israel yang sedang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan berbangsa, berkeluarga atau bahkan pemahaman mereka sebagai bangsa yang dikasihi dan dipilih oleh Tuhan. Bagaimana tidak, bangsa Israel pada waktu itu jatuh dalam penjajahan dan kemudian dibuang ‘oleh Tuhan’ ke negeri asing (yang menjajah mereka).

Konflik dalam diri (batin) menjadi bagian yang tidak terelakkan melewati masa-masa seperti itu. Mereka berjuang untuk mencari dan menemukan “dimana letak kepedulian Tuhan (yang katanya mengasihi hidup mereka itu)” tepat ketika mereka melihat kehancuran menyelimuti kehidupan mereka. Sampai di titik itu saja bangsa Israel pasti mengalami kesulitan … ditambah lagi … apa yang kita baca sekarang! Para ‘gembala’ (pemimpin bangsa, pemimpin umat) ternyata ‘hanya peduli pada diri mereka sendiri’ … [bacalah ayat 2-4].

Membaca apa yang dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu tentu akan mengingatkan kita kepada satu negeri yang lain … negeri yang kaya akan sumber daya alamnya, negeri yang sebenarnya mampu menjadi salah satu negeri yang ‘hebat’ … akan tetapi … entah kenapa … kok sampai hari ini … negeri yang satu ini ‘gak maju-maju’ …

III. Penerapan Bahan

Apakah benar apa yang dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu: “para pemimpin bangsa nya hanya memikirkan kantong mereka sendiri, perut mereka sendiri, kesejahteraan mereka sendiri (ayat 10)” … juga sekarang sedang dialami oleh negeri yang satu ini???

Mungkin saja! Lihat saja bagaimana para pemimpin bangsa negeri itu yang ‘tega’ mengeluarkan anggaran ber-M M untuk ‘studi banding’ ke luar negeri yang nyata-nyatanya malah membuat malu bangsa kita (insiden komisi8@yahoo.com di Australia) … Lihat saja anggaran 9 M yang disiapkan untuk (pada akhirnya) membuat situs / web pemerintah yang mandiri yang dikritik oleh banyak orang: “kenapa harus semahal itu??? Yang 100 juta aja sudah canggih kok” … Belum lagi rencana membangun gedung yang baru itu … yang anggarannya jauh lebih besar lagi itu …

Okelah .. itu yang sedang terjadi di ‘negeri besar’ kita … tapi bagaimana kondisi ‘negeri kecil’ kita … keluarga kita, lingkungan masyarakat kita, jemaat kita … apakah hal yang sama atau tidak jauh berbeda juga sedang terjadi di ‘negeri kecil’ kita???

Hati-hati, ayat 10-11 adalah bentuk kemarahan Dia kepada mereka yang ‘hanya peduli pada diri mereka sendiri’ sekaligus bentuk pembelaan Tuhan kepada mereka yang ‘diacuhkan dan tidak dianggap penting oleh orang-orang yang lain’.

Pokok Diskusi
  1. Menurut pemahaman bapak dan ibu, di masa kini … siapakah figur para gembala itu?
  2. Apa yang dapat kita lakukan agar kita bisa menjadi pribadi yang peduli akan keberadaan orang-orang lain?
Sumber gambar: Pixabay

Terimakasih sudah membaca renungan di blog ini. Sahabat dapat menerima renungan langsung melalui email dengan mendaftarkan email Sahabat di kotak subscribe. Tuhan memberkati selalu.


SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER